Jumat, 02 Desember 2011

indah karena gelombang

Gelombang wavelet memiliki nilai frekuensi dan amplitudo yang tidak tertahan pada sebuah daerah terntentu, jadi dia bisa fleksibe dan mengikuti alur sebuah sinyal dengan baik (jiah keinget mw kasih materi atau curhat nie jeng?). dari dulu kepengin banget curhat di blog, tpi g pernah kesampean. hari ini gue berharap bisa tumpahin banyak hal yang belakangan  actually merenggut kebebasan personalku dan al hasil membuat kejiwaanku sedikit terganggu(haaa,ababil dikit, mumpung masih single).

Rabu, 28 September 2011

lulus melahirkan keluarga wavelet

26-09-11 the great day for me and my friend at attack wavelet family...
alhamdulillah akhirnya dinyatakan lulus.
lanjut masa revisi yg ternyata lebih menyusahkan,hmmm
tapi inilah hidup, bukan hidup klo gda belokan,haa

belokan? tikungan kalee...
ya itulah. proses yg hampir berjalan 2tahun dengan perkuliahan total hampir 5 tahun, dinyatakan sukses atau gagal dlm 2jam, sebuah cerita indah untuk masa depan.
kata orang sidang adalah hal spesial namun pasti terjadi, aku yakin itu, namun aku sesali bahwa perjalanan kelulusanku banyak mengakibatkan hal-hal yang tak terbayangkan sebelumnya,, unpredicable and make trouble my live. lagi kaya gini rasanya pengen nyanyi bareng nada'problema'.


Jumat, 12 Agustus 2011

dosen untuk bersama

belajar dari pengalaman sang akhwat yang akrab saya panggil 'mutiara asoyy', banyak belajar tentang arti hidup dan kebersamaan. hidup tak akan terasa indah tanpa adanya tantangan bahkan tantangan. karena warna hidup kadang dan bahkan sebenarnya ddatang karena adanya dua hal tadi. itu hal yang memang layak adanya dan merupakan kesatuan aksi dan reaksi.
namun ada beberapa orang yang menganggap hidup itu terhambat, tak nyaman karena adanya tantangan dan halangan yang ada, padahal itu hanyalah alibi karena ketidak berdayaannya menghadapi dua hal tadi. kebanyakan kita memang ingin menikmati hidup atas dasar apa yang membuat kita senang dan tidak mnjadi beban atas kebiasaan, padahal ketika kita mampu melewati hal- hali d luar kebiasaan itu bakalan menjadi suatu hal yang luar biasa karena bisa jadi itu adlaha sebuah hal yang luar biasa dalam hidup kita.

Selasa, 05 Juli 2011

kekuatan karena adanya dorongan atau tarikan dari luar

bola melayang karena adanya dorongan yang kuat dari pemain bola. grobak tanah jalan, karena adanya tarikan dari si penarik terkait. sama aja kayak manusia, dia ga akan bergerak jika tidak mendapatkan stimulan atau daya dari luar baik tarikan atau dorongan. itu mengandung makna bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari lingkungan sekitar.
pernah denger orang bijak berkata begini, 'orang yang tidak mau berusaha artinya bohong, orang yang tidak mau  berdoa artinya sombong'. sama halnya dengan manusia yang merasa bahwa dirinya mampu menaklukan semua hal tanpa ada rasa keterbutuhan dengan saudaranya, sama halnya dengan orang yang SOMBONG! gede mungkin karyanya, tapi MANFAATNYA NIHIL NOL BESAR.

Kamis, 30 Juni 2011

karena manusia, bukan malalikat

dengan mudah sering kita mendengar keluhan, kenapa begini ga gitu aja si?! atau kadang kita sndiri yg ngeluh, "ko gitu sih! kok gini sih!.. namanya juga manusia, BUKAN malaikat, dan saya sangat yakin g ada manusia setengah DEWA.

Minggu, 22 Mei 2011

ingatkanku tentangmu

hari-hari merasakan betapa tidak produktif, ibadah terasa hambar, aktivitaspun tak selezat biasanya...
itulah awalnya,,banyak kejadian yang ku rasa mendidikku menjadi seseorang yang tak peduli, tak mau tahu...
tempat yang pertama kali aku merasakan betapa indahnya ukhuwah, betapa besar pengorbanan yang memang mesti kita berikan, betapa besar kelapangan yang harus diberikan sebagai seorang sahabat, adik dan sekarang aku menjadi seorang kakak bahkan sebagai seorang yang paling tua dan semoga bisa dituakan...
disinilah aku memulai mengenal hidup, bahwa relatifitas n sensitifitas sangat dekat dengan kehidupan manusia...

tempat mengenal kesahajaan hidup "wisma". hampir 5 tahun d wsma, baru merasakan bahkan mungkin t'sadar berkedudukan sebagai orang yg d tuakan n memang saatnya di tuntut dewasa...
d usia yang hampir menginjak usia 23, jadi semangat untuk saya belajar lebih dewasa, belajar lebih halus, lembut, belajar memperhatikna n belajar mendidik dengan pembelajaran yang baik, tak lain dan tak salah adalah karena saya harus mampu mempersiapkan diri untuk menjalani tugas pasca kampus, yakni berkedudukan sebagai"wanita dewasa atau bahkan sebagai ibu dan pembimbing dalam rumah tangga"

mendengar forwad message tadi pagi, awalnya biasa, namun ingat dengan proses yang sedang berjalan, mengingatkan saya, apakah saya bisa sebagik atau lebih jauh baik dari beliau?? hmmm, belum smpt saya dberi wktu brtemu, bliau ibu dari 13 anak yang insyaAlloh shalih n shalihah Ustdh.Yoyoh Yusroh syahid dalam perjalanan pulang pasca ikut serta dalam wisuda putri beliau di UGM.

belajar dari almarhumah yang luar biasa bagaimana mendidik ke-13 anaknya dengan baik, ketika dia merasa bahwa jumlah anak yang cukup banyak merupakan anugerah Allah SWT dan bukan membuatnya repot melainkan banyak terbantu. itulah kesuksesan beliau dimana bukannya keteteran namun dengan penanaman kemandirian sejak dini, mampu menanamkan rasa hormat dan menghargai pada setiap putra-putrinya...
banyak hal indah yang tak dapat saya ungkapkan karena jujur bagi saya, walaupun belum pernah bertemu langsung, saya sangat yakin karena kekuatan keinginan yang baik serta do'a, beliau n suami mampu membimbing putra-ptrinya dengan baik bahkan putra beliau yg berumur 15th pun sudah menghafal Al-Quran. luar biasa untuk dibayangkan dalam kondisi kehidupan saat ini...

dari kabar duka hari ini saya banyak belajar tentang arti hidup. begitupun dengan kehidupan yang sedang saya jalani, rasanya ingin sekali saya jujur ttg hal ini pada semua akhwat n wanita di dunia ini. sebuah refleksi dan sebuah teguran untuk semua akhwat n wanita di dunia ini, apalagi bagi mereka yang mengaku "aktivis", tanyakan pada diri sendiri, apakah kita sudah berusaha mencoba menyayangi diri kita sendiri dengan menyayangi orang lain? di zaman saat ini, mungkin mudah untuk menghitung dengan jari berapa banyak wanita yg belajar mencintai diri pribadi dengan mencintai orang lain..
saat ini mereka cenderung dengan kesenangan mereka sendiri, tak peduli dengan orang lain bahkan kepentingan bersama.miris banget rasanya dengan kondisi kuantitas yang menurun(saya rasa) apakah kualitasnyapun juga tidak bisa di jaga? luar biasa, sungguh koreksi yg sangat mendalam.

lingkungan memang sangat berpengaruh, terutama teman atau tetangga bermain bersama. saya merasa sukar sekali untuk mendekati, memang basic saya adalah mediasi alias syiar.. sya mencoba keluar dari problematik diri dan konsen dengan sekitar, namun sukar sekali rasanya untuk mulai mengenal sistem kaderisasi yang baik untuk mencetak generasi penerus yang lebih baik.

ibarat jual-beli, ada saler ada buyer..begitu juga dg dakwah, ada da'i ada objek da'i, jadi tidak hanya da'i yang hadal yang diturunkan untuk memberantas segala penyakit yang menjangkit sebuah lingkungan, namun sangat dibutuhkan adalah moralitas yang baik dan tinggi. itulah KESADARAN diri. yang lahir dari rasa PEDULI dan TANGGUNG JAWAB atas segala perilakunya...
maka dari itu walaupun saya pernah mendapat masukan dari ibu saya yang berkata, "kalau kayak gitu, ya kamu kan yang gede, ya ngalah. mang kudune wong tuo tu ngalah karo sing enom"...
beda konteks dengan perkataan ibuku, bahwasanya lingkungan keluarga memang tempat untuk berbagi segala sesuatu dengan porsi yang lebih karena merekalah yang pantas untuk tahu segalanya tentang kita. namun dalam segi pembelajaran bersama semestinya kita mampu merubah mindset 'diperhatikan' menjadi 'belajar mengerti dan memahami' karena hidup hanya sekali, dan sedikit waktu ternyata lebih mudah mengumpulkan musuh dibanding kawan karib yang mungkin saja bisa ditempuh dengan waktu yang panjang.
jadi jangalah merasa puas dengan apa yang kita berikan, namun berusahalah untuk istiqomah berbuat baik karena belum tentu apa yang dianggap baik menghasilkan yang baik. belajar untuk dewasa tidak perlu menunggu cukup umur, namun hal itu harus bisa ditanamkan dengan kemandirian yang dilakukan sejak dini di lingkungan keluarga, sehingga ketika kita berkumpul dengan kompleksnya masyarakat, kita mampu untuk memberi warna-warna indah islam dan harum ketiggian islam yang menyegarkan sehingga mampu merubah dan membangun masyarakat tanpa adanya pemaksaan yang berarti atau tanpa disadarkanpun kita mampu untuk berbagi..

elemen terkecil adalah keluarga dan majunya keluarga adalah karena tegar dan kokohnya sang ibu pelipur lara..
mari berjuang menjadi IBU teladan sepanjang masa...

Sabtu, 26 Maret 2011

dari dahulu...

ingin rasanya segera mengakhiri ini semua, tapi teringat bahwa Allah akan membersamai hambaNya yang bersabar dan senantiasa menyerahkan diri kepadaNya. kadang terpikir juga, kenapa saya mau susah seperti ini, padahal jalan kemudahan bisa saya dapatkan,, satu hal lagi yg mengingatkan saya bahwasanya jangan sombong dengan kemampuan yg kita anggap mampu, karena godaan di luar sana akan jauh lebih dahsyat, hingga akhirnya saya tetapkan diri untuk setia mengikuti alur kehidupan yg saya harapkan bakal menjadi benteng saya dari jilatan api neraka..

hidup memang ribet kalo terlalu dibwa perasaan. tpi hidup bakalan ancur-ancuran kalo ga pake perasaan. sekedar curhat untuk meluapkan segala keluh kesah yang selama ini saya rasakan.

kalau ada penyanyi yang bilang dangdut tak goyang bagai sayur tanpa garam kurang asin kurang enak, ya ga jauh beda dengan perjalanan hidup manusia yang ada pasang dan surutnya.   hidup terasa sangat sempit ketika kita terkungkung oleh permasalahan yang ada. tidak bisa membuka mata, hanya bisa menjudge perkara-perkara dengan subjektifitas semata, oh sungguh kasian sekali hidupnya.
ingin segera keluar dari segala masalah dan beban yang ada. tapi bagaimana? Tuhan memberikan ini semua dan menghadapkan ini semua karena tuham sedang melatih saya, menempa saya untuk menjadi hambaNya yang kuat..

Aku merasa dan harus mencoba untuk tetap merubah sikap, tidak bis aterus seperti ini, lemah dan sering merasakan penderitaan yang tak semestinya saya rasakan, luar biasa rasanya sangat menyesakkan hati memang, ketika kita berusaha ingin menjadi yang baik atas diri kita dan semua namun mereka hanya memandang sebelah mata, lebih2 berkata, "itu urusan saya, buat apa anda bersusah-susah seperti itu?!" ya Rabb, kalo saya masih bersikap seperti tempo doeloe, saya bakal berani berkata "masih untung saya ingetin!!" (naudzubillah ya Rabb) itulah kurnia anggi LUSMANAH, diinginkan untuk selalu berhati lembut, semoga Allah SWT senantiasa menguatkan hamba untuk bertahan dengan apa yang menurut saya baik, dan semoga tidak sombong dg semua ini...

its the truth or just my sighing???

kalau boleh saya jujur, ingin sekali sebenarnya jujur tapi saya sadar bahwa sebenarnya kejujuran tersebut hanyalah hasutan dari syaitan jahanam. ingin rasanya segera mengakhiri ini semua, tapi teringat lagi bahwa Allah akan membersmai hambaNya yang bersabar dan senantiasa menyerahkan diri kepadaNya. kadang terpikir juga, kenapa saya mau susah seperti ini, padahal jalan kemudahan bisa saya dapatkan,, satu hal lagi yg mengingatkan saya bahwasanya jangan sombong dengan kemampuan yg kita anggap mampu, karena godaan di luar sana akan jauh lebih dahsyat, hingga akhirnya saya tetapkan diri untuk setia mengikuti alur kehidupan yg saya harapkan bakal menjadi benteng saya dari jilatan api neraka..


Jumat, 25 Maret 2011

UMUR KEHIDUPAN


di awali dari perpindahan ruang pribadi alias rolling kamar. di awal memang terasa ketika kuliah sembari bekerja waktu terasa sempit. ketika kesempatan untuk hidup d kampus lebih bebas terasa bahwa saya seolah-olah menyi-nyiakan waktu dan penyesalan terjadi di akhir mulai terasa. 
Kamar baru, sahabat baru, berharap mendapat motivasi yg lebih untuk menghargai waktu. namun ini bentuk tarbiyah Alloh SWT agar saya mampu belajar dan berfikir, sehingga saya sadari teman baru saya sering sekali menghabiskan waktu luang untuk tidur n aktifitas lain yg menurut saya kurang produktif. 
Ttergelitik sekaligus ingin memotivasi diri bahwa saya harus bisa menghargai waktu yang ada, hatta saya mulai mencari referensi agar mata saya melek dan mampu berupaya untuk bisa menghargai waktu lebih baik. 
semoga bermanfaat....

Al-Waqtu Huwa al-Hayâh (waktu adalah kehidupan)
Sudah terlalu dekat dan melekat sampai kita lupa akan hakikatnya. Tiga suku kata yang sangat mendalam maknanya dalam samudera kehidupan yang luas dan kompleks, yang terdiri dari ‘(tiga) suku kata arab, namun sangat representative untuk menggambarkan arti pentingnya waktu bagi kehidupan manusia, yaitu ungkapan 'al-waqtu huwa al-hayâh (waktu adalah kehidupan)’. Sekali lagi, yaitu 'waktu adalah kehidupan.'
Kehidupan sebagai waktu yang dilalui manusia dimulai ia dilahirkan hingga ia wafat. Dengan definisi kehidupan seperti di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, seseorang yang membiarkan waktunya berlalu sia-sia, dan lenyap begitu saja, sama artinya ia dengan sengaja atau tidak sengaja telah melenyapkan sisa-sisa masa kehidupannya. Al-Hasan al-Bashri berkata,
“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan hari-hari”,
maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
Cobalah sekarang ingat kembali berapa lama waktu yang anda habiskan untuk sekedar istirahat, bercerita, tertawa, tidur atau hal-hal yang terasa indah baik untuk pribadi atau halayak ramai, sehari anda pasti habiskan untuknya bisa mencapai 5 jam setiap harinya. Bayangkan seandainya anda hidup hanya sekitar 60 tahun, maka 5 jam itu akan menghabiskan hampir seperempat masa kita di dunia. Luar biasa ternyata kita menghabiskan waktu hidup kita sekitar 20 tahunan untuk aktivitas yang belum pasti nilainya. Sekali bahwa ketika kita menyia-nyiakan dan membuang waktu kita tanpa hal yang berarti untuk agama dan kemaslahatan umat, maka ketika itu juga sesungguhnya kita telah membunuh diri kita sendiri. Betapa waktu itu sangat berharga dan jangan biarkan ia berlalu begitu saja.
Allah Subhanahu wa Ta'ala Bersumpah dengan Waktu dan Bagiannya
Karena sangat pentingnya Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah terkait waktu dalam beberapa surat:
“Demi waktu fajar, Demi waktu Dhuha, Demi Malam, Demi Siang, Demi Waktu”
Kenapa Allah bersumpah hanya dengan kalimat yang pendek-pendek, yang tak jahr maksudnya??? Itulah kaitannya dengan ayat pertama yang Allah turunkan. Manusia disuruh untuk terus berfikir sehingga bisa meraih apa arti sebenarnya yang Allah sembunyikan, karena dari yang tersembunyi itulah insan berfikir dapat semakin dekat dengan sang Khalik. Seperti Ulil Albab di dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. ": Al Imran :190).
 (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. ": Al Imran :191 )
Berbisnis Amal Dengan Allah SWT
Sejauh mana kita melangkah dan berbuat di masa-masa sebelum ini? Maka sudah selazimnya menjadi kewajiban bagi seorang muslim terhadap dirinya untuk melakukan muhâsabah an-nafsi 'intropeksi diri', yaitu menghitung-hitung dirinya atas tahun dan hari-hari yang telah ia lalui, seberapa besar nilai yang kita berikan, seberapa indah senyuman yang ditunggingkan orang-orang yang menyertai kita, seberapa dalam kesedihan yang mungkin kita goreskan atas orang lain, atau bahkan makhluk bernyawa dan tak bernyawa yang tidak kita penuhi hak-haknya.
Seperti apa yang dilakukan oleh seorang bisnisman yang menginginkan kesuksesan dengan modalnya pada setiap tahunnya, ia menghitung-hitung kembali perdagangannya, berapa modal yang telah ia keluarkan, berapa pemasukannya, di mana ia mengalami kerugian dan apa masalahnya, dan di mana keuntungannya, berapa besar keuntungannya dari pada kerugiannya, ketika kerugiannya lebih besar dari pada keuntungannya maka ia menjadi sangat menyesal sekali dan mengalami kesedihan yang luar biasa, dan sebaiknya ketika keuntungannya lebih besar dari pada kerugiannya maka ia merasa senang dan bergembira sekali, untuk selanjutnya ia melakukan kalkulasi bisnisnya kembali, mengatur dan membuat jadwal untuk tahun berikutnya.
Yang demikian itu dalam urusan duniawi, begitu ihtimaam (perhatiannya)dan sangat telitinya ia dalam urusan dunia ini. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan anda tidak akan dianiaya sedikitpun.”(QS.An-Nisaa:77)
Nabi Musa berkata di dalam al-Qur`an :                                        
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan
sementara, sesungguhnya akhirat itulah kesenangan yang kekal.” (QS.Al Maun : 39)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
Karena itu muhasabatunnafsi merupakan suatu keharusan, seandainya tidak sanggup setiap hari untuk instropeksi/menghitungkan dirinya hendaklah dilakukan pada setiap pekan, maka kalaupun setiap pekan ia masih juga tak dapat melakukannya, maka hendaklah setiap bulan, dan kalau tidak bisa juga maka hendaklah ia melakukan instropeksi diri pada setiap tahun.
Padahal dapat kita lihat salah seorang sahabat yang dijamin mendapatkan syurga, padahal dia tidak bergelut dengan pedang, tidak berceramah di atas mimbar dll, hanya karena muhasabah setiap malam menjelang tidur, ketelatenannya dalam memohon ampun dan memaafkan dengan ikhlas segala kesalahan saudaranya sepanjang hari, mampu membawanya dalam rahmat Allah SWT, bagaimana dengan kita?? Boro-boro memaafkan kesalahan orang lain, kesalahan sendiripun dianggap biasa dan lalai serta mengulanginya untuk kesekian kalinya, naudzubillah sungguh seandainya seperti itu, kita berada dalam golongan orang yang merugi.
Belajar Dari Manusia Yang Allah Cintai
Para salafus soleh meninggalkan banyak pelajaran berharga dalam menghargai waktu. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, sepanjang hidupnya tercatat telah mengumpulkan 358 ribu halaman dari berbagai karangannya. Jika kita perkirakan masa kanak-kanak beliau sebelum baligh 14 tahun, maka dapat disimpulkan beliau menulis 14 halaman setiap harinya. Begitu perhatiannya beliau dengan waktu, sampai-sampai ketika kurang lebih sejam sebelum kematiannya beliau masih menyempatkan diri menulis suatu do`a yang baru ia dengar dari Ja`far bin Muhammad. Begitu pula dengan Imam Ibnu al-Qayyim yang tidak rela kehilangan waktunya karena safar (suatu perjalanan), sehingga selama safarnya beliau mengisinya dengan menulis sehingga menghasilkan karya Zaadul Ma`aad. Imam Nawawi yang tidur dengan bersandarkan sebuah buku yang ditegakkan pada dagunya, begitu buku itu terjatuh maka beliau terjaga dan kembali menggoreskan tintanya. Majduddin Abu al-Barakat `Abdussalam, kakek dari Imam Ibnu Taimiyah, tiap kali masuk ke kakus, beliau memerintahkan anaknya (orang tua Imam Ibnu Taimiyah) untuk membacakan suatu kitab dengan suara keras, hingga terdengar olehnya. Tak aneh jika sikap sang kakek ini tertular kepada cucunya. Suatu ketika Imam Ibnu Taimiyah jatuh sakit, dokter menyarankan agar beliau untuk sementara waktu menghentikan dulu kegiatan belajar mengajarnya karena hal itu dikhawatirkan dapat memperparah kondisinya. Berkata Imam Ibnu Taimiyah kepada dokternya, "bukankah jika jiwa yang bahagia dan gembira dapat memperkuat daya tahan tubuh", sang dokter membenarkannya. "Maka sesungguhnya jiwaku merasa tenang jika berinteraksi dengan ilmu, dan tubuhku terasa kuat dan hanya dengan itu saya dapat beristirahat."
            Maha suci Allah, mengingat kisah khalifah pertama Abubakar Ra, yang memiliki kesempurnaan iman, disaksikan sendiri oleh rasulullah Saw dalam sabdanya:
“Jika ditimbang keimanan Abubakar dengan keimanan seluruh umat akan lebih berat keimana Abubakar.”(HR. Al Baihaqi dalam Asysyiib)
Tak lain adalah karena keuletannya dalam menghabiskan waktunya untuk bersama dengan Muhammad Saw sang penggenggam hujan, sehingga Abubakar memiliki karakter yang tak jauh beda dengan sang Rasul. Bahkan ketika Umar Ra dengan keyakinan mampu mengejar Abubakar untuk segera beramal di awal hari, ternyata Abubakar sudah berada barisan terdepan.
Optimalkan Amal
Umur manusia merupakan rahasia Allah Subhanahu wa Ta'ala Kualitas umur seseorang sangat menentukan posisinya di alam kehidupan berikutnya. Jika dari waktunya diperuntukkan hanya karena Allah (lillah) maka kematiannya adalah baik baginya. Namun sebaliknya jika waktu dan umurnya dihabiskan untuk menuruti kesenangan nafsu dan dan ambisi syahwat hewaninya maka kematiannya merupakan petaka besar baginya. Al-Hasan al-Bashri berkata,
“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan harihari”,
maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
Ibnu Mas`ud Radhiyallahu 'Anhu (salah seorang sahabat besar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam) berkata:
"Tidak ada yang lebih aku sesali, kecuali bila matahari telah terbenam maka
berkuranglah masa ajalku, namun tidak bertambah sedikitpun amalanku."
Berkata Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah,
"Sesungguhnya malam dan siang terus bekerja dalam dirimu, maka bekarjalah
 di dalam siang dan malammu."
Bekerjalah pada siang dan malammu, janganlah mengakhirkan pekerjaan siang untuk dikerjakan di malam harinya, dan janganlah mengakhirkan pekerjaan malam ke siang harinya. Janganlah pekerjaan hari ini di akhirkankan hingga esok harinya dan janganlah pekerjaan esok karena malas diakhirkan hingga lusanya. Jangan katakan, "Nanti akan kuamalkan, sebentar lagi akan kukerjakan." Karena setiap manusia akan ditanya pada hari kiamat, mengenai umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang ilmunya sudahkah ia amalkan, dan tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia belanjakan ?. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam:
Tidak akan bergeser kedua kaki manusia pada hari Kimat hingga (ia) ditanya
tentang:
(HR. At-Tirmidzi)
Dan sebuah penegasan yang amat jelas tentang hakikatnya hidup manusia dalam penghabisan masa jabatannya di dunia, yakni dalam Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr : 1-3)
Sungguh terbukti kebenaran ucapan Imam Syafi`i mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
Bahwa seandainya (al-Qur`an) tidak diturunkan kecuali (hanya) surat (al-Ashr) ini, maka hal itu sudah cukup memadai bagi manusia sekalian. Nikamtilah kehidupan kita seolah akan hidup selamanya dan terus beramal, dan lakukan amalan itu dengan lurus sehingga terasa hidup selamanya di dunia dengan keberkahan dari sang pencipta sehingga rahmat yang dinantipun terbukakan. Dan tak lain segala aktivitas kembali hanya untuk Allah SWT semata dan hanya akan kembali padaNya, sebagaimana firmanNya berikut:
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji-pujian; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Surah At-Taghaabuun:1)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik, hidayah dan keberkahan-Nya dalam hidup dan umur kita. Amiin.

Kamis, 03 Februari 2011

dia itu polos

belajar dari penglihatan selama mengajar anak-anak TPQ, hmmmm...
smoga postingan yg ta  edit dr fb bisa memberi sebuah sindiran untuk kita yang merasa dewasa untuk bisa berpikir lugas dan jujur..


semakin dewasa ternyata orang semakin banyak menerima pelajaran tentang berbohong...
baru nyadar bahwa aku semakin sering melakukan kebohongan, ntah itu untuk kebaikan atau bahkan keburukan... 

aku sadar setelah sringnya interaksi dengan anak2 yang subhanalloh,, luar biasa mereka sulit berbihong...
mereka juujur dengan apa yang ada, apa yang dia punya, apa yang dia ingin, apa yg dia rasa, dan segalanya ntah apapun yang terjadi mereka selalu berusaha JUJUR...
lantas bagaimanakh dengan kirta yang dewasa?? ato yang udah berusia di atas usia remaja??
banyak faktor yang menyebabkan itu bisa terjadi,, 

di mulai dari keluarga lingungan, makanan, dan tuntunan serta tontonan yang kadang menyebabkan kita berumur dewasa tapi akal dan nurani kita kalah dengan anak-anak di bawah umur...

disini yang aku sorotin adalah sahabat, bagaimana dialah orang terdekat setelah orang rumah kita..dialah yang menemani aktifitas kita seharian dan bisa dibilang dialah yang akan mengenalkan kita pada calon pendamping hidup kita...
makanya mulai dari sekarang boleh bergaul asal ga bercampur.. sebagaimana kata syekh Hasan Al-Banna bahwa "jadilah kita sebelum orang lain"...

kita diharapkan mempunyai pegangan kuat sebelum kita berafiliasi dengan yang lain...
jadi berpegangtegulah pada tali Alloh dan bergabunglah dengan mereka yang paham akan agama dan mampu mengaplikasikannya, serta bergaulah dengan siapa saja karena siapa tau itulah amalan yang mendekatkan kita ke syurgaNya...
banyak-banyaklah belajar dan berlakulah jujur,,

jangan terus2an bermain di panggung sandiwara...

kesejatian dari seorang hamba


anak SMA aja bisa brbicara kaya di bawah ini lho..
apalagi kita yang merasa mempunyai kebesaran dengan almamater yang kita sandang..
sebuah perenungan untuk setiap aktivitas kita dan arahan kita berikutnya..


Mukmin sejati bukan dilihat dari banyaknya ia berorganisasi,
Tapi sebesar apa tanggungjawabnya dalam menjalankan amanah...
Bukan dari partisipasinya dalam menjalankan kegiatan,
Tapi dari keikhlasannya dalam bekerja..
Bukan dari tundukan matanya dalam berinteraksi dengan yang bukan muhrim,
Tapi bagaimana ia membentengi hatinya..
Bukan dari shalatnya yang lama,
Tapi dari kedekatan dengan Rabbnya di luar aktivitas shalatnya..
Bukan dari rutinitas dhuha dan tahajudnya,
Tapi sebanyak apa tetesan air mata penyesalan yang jatuh ketika ia sujud..
BERBUATLAH KARENA ALLOH, AGAR YANG BERAT MENJADI RINGAN..

thanks alot for my brother...

Senin, 10 Januari 2011

loyalitas dan disloyalitas

LOYALITAS DAN DISLOYALITAS MASA TRANSISI KEPEMIMPINAN KAMPUS

Sebagaimana pemilu itu bermuatan amanah dan kesaksian, ia juga untuk menunjukkan loyalitas dan disloyalitas. Dalam pertarungan pemilu, beragam ideologi dan fanatisme yang berbeda-beda itu bertarung. Setiap pilihan terhadap salah seorang kandidat dalam pertarungan ini, maka itu dianggap sebagai dukungan terhadapnya dalam menghadapi seterunya dan menolongnya untuk berkompetensi dengan seterunya. Sama halnya dengan perhelatan yang akan dilakukan di kampus kita tercinta. Itulah loyalitas sejati yang tidak terjadi kecuali di atas fondasi Islam.
Oleh karena Islam menjadi salah satu kekuatan yang para pembelanya terjun dalam kancah pertarungan terkait dengan dasar iman kepada Allah dan Rasul-Nya ini, yaitu pertarungan untuk menerapkan syari‘at Allah dan meruntuhkan berbagai sistem dan madzhab yang bertentangan dengan Islam, maka seluruh umat harus dimobilisasi untuk membela syari‘at Allah, serta mendasarkan loyalitas dan disloyalitasnya terhadap hal tersebut. Umat tidak boleh mendukung selain para pengusung syari‘at, dan tidak memberikan suara kecuali untuk kepentingan Islam, tidak membantu orang yang batil dan sekuler dalam pertarungan ini meskipun dengan separo suara, agar tidak terjadi fitnah dan seluruh kepatuhan hanya diberikan kepada Allah. (Shalah as-Shawi, hlm. 176)
Allah berfirman, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik).
"Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Ma’idah [5]: 78-81)
Bagaimana menurut Anda mengenai laknat yang menimpa suatu kaum hanya karena mereka makan, minum dan duduk bersama dengan para ahli maksiat. Lalu, bagaimana jika yang mereka lakukan lebih dari itu, yaitu menolong mereka, bukan menolong orang-orang mukmin dan mendukung mereka dalam satu sikap yang diharapkan bisa menjadi jalan bagi kemenangan Islam dan umat Islam? Bukankah ini adalah sikap mengabaikan orang-orang mukmin dan tanda akan datangnya perpecahan dan kerugian?
Bukan kekayaan yang akan kita tawarkan kepada rekan2 kita, namun hakikat syariat Alloh yang akan kita tawarkan dlam pemilihan besok, dengan usaha tersebut berharap bahwa Allohlah yang akan memenangkan dan akan mengubah kondisi kampus dengan hidayahNya. Selama hakikat loyalitas dan disloyalitas tidak belum tertanam kuat dalam kesadaran umat dengan kadar yang membuat mereka bisa memahami bahwa pembelaan mereka terhadap kebenaran meskipun mereka tidak memperoleh keuntungan materiil itu lebih baik daripada mendukung kebatilan untuk memperoleh sedikit kesenangan dunia yang kenikmatannya segera hilang dan pahitnya abadi, maka perjuangan Islam tidak akan kuat dalam kancah perang ini dan tidak akan bisa berbuat banyak.
Kalau daripihak luar banyak yg menjanjikan berbagai fasilitas kesenangan yang notabene adalah kemaksiatan2 dan kesenangan sementara, kita sebagai tangan2 Alloh tidak mampu menawarkan seperti itu, namun kita hanya sanggup berjanji kepada orang yang jujur untuk memperoleh ridha Allah dan surga. Kita tidak memiliki jabatan dan dana, karena jabatan adalah amanah yang tidak boleh diberikan kecuali kepada yang berhak menerimanya. Ia bukan hasil jarahan para kroni raja dimana mereka bisa membagi-bagikannya sesuka hati mereka tanpa ada kontrol dan pertanggungjawaban. Jadi kita di tunutut untuk pintar menjual apa yang akan kita bawa, dengan berbagai perubahan yg akan kita arahkan.
Sekali2 kita mengarahkan teman2 kita kepada murninya, syahadat kita. Bukan malah terutama dalam berjalan bersama kita merasa tertekan dengan apa yang dibawa, tapi bagaimana kita mengusung bersama untuk memurnikan syahadat yang kita ucapkan. Bukan karena masalah atau kepentingan sepihak sehingga kita saling membenci, padaha kita sama2 bertauhid dan mengesakan Alloh tapi kenapa kadang masih ada rasa tidak suka dan bahkan jadi memusihi orang-orang yang bertauhid dan memutuskan hubungan dengan mereka, maka ketika itu terjadi sebenarnya ia telah menggugurkan kehormatan La Ilaha Illallah, tidak mengagungkannya dan tidak menjalankan haknya meskipun ia mengaku sebagai muslim.
Politik Islam adalah Politik Prinsip
Kandidat yang kita ttawarkan mungkin tidak mampu melakukan apapun selain menjanjikan ridha Allah bagi para pemilih dan menegakkan agama yang karenanya Allah memperbaiki keadaan kampus. Karena Nabi SAW pernah meminta beberapa kabilah untuk menolong dan melindungi beliau agar beliau bisa menyampaikan risalah Tuhannya. Di antara kabilah yang beliau ajak bicara adalah Bani ‘Amir bin Sha‘sha‘ah.
Salah seorang dari mereka mengatakan, “Apa pendapatmu seandainya kami berbai‘at kepadamu mendukung misimu kemudian Allah memenangkanmu atas orang-orang yang menentangmu, apakah kami akan memegang kekuasaan sesudahmu?” Rasulullah SAW menjawab, “Kekuasaan itu kembali kepada Allah, Dia-lah yang memberikannya pada siapa yang dikehendaki-Nya.” Lalu orang itu berkata kepada Rasulullah SAW, “Apakah kami menyodorkan leher kami kepada orang-orang Arab untuk membelamu, lalu ketika Allah memenangkanmu maka kekuasaan itu jatuh ke orang lain? Kami tidak perlu dengan misimu itu.” Lalu mereka menolak permintaan Rasulullah SAW.”
Nabi SAW menolak menjanjikan sesuatu kepada mereka, karena kewenangan ada di tangan Allah, dan Dia memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Pelimpahan kewenangan itu memiliki syarat, kriteria dan caranya, bukan dengan warisan. Nabi SAW menolak permintaan itu pada waktu beliau sedang amat butuh terhadap perlindungan dan pertolongan. Tetapi, prinsip tidak bisa ditawar. Ia tidak mengenal intrik, dan tidak bisa menerima apapun selain menjalankan syari‘at Allah, kemudian sesudah itu Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
Saat ini kita diminta untuk berikhtiar memperjuangkan syariat Alloh melalui perhelatan kampus yg akan segera dilaksanakan. Bukan sekedar memperlihatkan “ini lho wajihah kita, punya ini” namun lebih dari itu, sebagai wujud pemaknaan syahadat kita yang menunjukkan seberapa besar iman dan amalan kita. Bukan mengedapakan egosentris, namun bagaimana kita bisa membawa risalaha Rasululloh untuk kita patrikan dalam setiap lembaga yang kita ikuti. Bukan sekedar “ini yang sesuai dengan jalan pikiranku!”. Sebagai langkah awal yaitu, membersihkan perjalanan dakwah kita di kampus dari fanatisme terhadap wajihah atau pemikiran yang kita kedepankan. Utamakanlah apa yang akan kita bawa, yaitu keberkahan dari Alloh, bukan bagaimana kita berkontribusi banyak dengan apa yang di bawa, karena itu menunjukkan ketidak syumulan kita dalam bergerak.
Semangat kawan satukan kata dan langkah kita dalam sebuah barisan untuk memenangkan ISLAM yang kita cintai. Ikhlaskan apa yang kita lakukan untuk sebuah keberkahan dakwah yang kita usung, jangan sampai ini membawa kita ke dalam jurang kemunafikan..

Maroji’ :
Alquran al karim
Dakwah Politik antara Pragmatisme dan Profesionalisme (Khalid Ahmad Asy-Syantut)
Sirah Nabawiyyah

banana7 // Agie Hirz