Jumat, 22 Maret 2013

99 cahaya di langit Eropa

         Ga ada kata terlambat untuk berkarya. termasuk untuk membaca. Tidak semata mengejar value added dari buku ini, tapi saya akan sensasi lebih ketika saya mampu mendokumentasikan apa yang telah saya baca apalagi bisa membagikan informasinya kepada teman-teman yang lainnya. Pertama liat buku ini, saya perhatikan covernya yang temen-temen bisa lihat di bawah, dimana ada berbagai tempat-tempat suci berbagai agaman dan kepercayaan yang tersebar d Eropa. Sedikit menggambarkan pluralitas kehidupan di negeri yang notabene sebagian besar penduduknya adalah non-Muslim.


           Membaca judulnya saja sudah terbersit bahwa penulis (mba Hanum dan mas Rangga) ingin menyampaikan tentang sebuah sinar sempurna yang pernah ada di benua Eropa kala itu. Sebuah karya yang menggugah seorang muslim bahwasanya kepercayaannya itu tidak seburuk apa yang sedang di boomingkan banyak pihak yang fobi islam.
          Dari buku ini banyak pelajaran yang bisa diambil, bahwa kebudayaan, teknologi dan agama tidak bisa dipisahkan dan harus saling berdampingan untuk mengarahkan manusia ke kehidupan yang lebih baik.
Dari napak tilas yang dilakoni penulis, membuka wawasan kepada pembaca bahwa dari pengalaman sejarah dan peradaban manusia, yang lebih penting bagi umat islam sekarang ini tidak lagi menyibukkan dalam pembahasan keunggulan yang telah dicapai umat masa lampau atau memperdebatkannya, namun bagaimana umat islam kembali unggul dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kembali terdepan dan menjadi pemimpin dalam ilmu pengetahuan dan peradaban dunia, atas prestasi nyata yang ditunjukkannya.
         Perjalanan penulis di negeri minoritas muslim, ternyata membuatnya kaya atas dimensi spiritual, yakni untuk mengenal islam dengan gaya dan cara yang berbeda. Eropa tidak sekedar dengan menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser MOzart, Stadion sepak bola San Siro, Colosseum Roma, atau gondola-gondola di Venezia. Namun banyak tempat ziarah yang bagus yang akhirnya menghantarkan penulis pada kecintaanya dengan agamanya 'islam'.
         Eropa dan islam pernah menjadi pasangan yangs serasi. Harmonisasi itu tampak pada gagahnya katedral Mezquita Cordoba, cantiknya Istana Al-Hambra Granada atau Hagia Sophia Istanbul. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2x lebih besar dari wilayah kekaisaran Roma di bawahJulius Caesar. Tidak banyak yang tahu pula bahwa peradaban Islam-lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini.
        Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat paris dan London beriri hati. Islam pertama kali masuk ke Spanyol membawa kedamaian dan kemajuan peradaban, jauh sebelum dan lebih lama daripada Indonesia mengenal Islam. Lantas kenapa saat ini cahaya itu mulai meredup dari bumi Eropa?
        Umat Islam terdahulu adalah traveler yang tangguh. Jauh sebelum Vasco de Gama menemukan Semenanjung Harapan atau Colombus menemukan benua Ameriak, musafir-musafir Islam telah menyebrangi 3 samudera hingga Indonesia berkelana jauh sampai ujung negeri China, menembus Himalaya dan Padang Pasir Gobi.
         Perjalanan ini membuka mata penulis bahwa Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya kesempurnaan ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan, kebudayaan dan kedamaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar