LOYALITAS DAN DISLOYALITAS MASA TRANSISI KEPEMIMPINAN KAMPUS
Sebagaimana pemilu itu bermuatan amanah dan kesaksian, ia juga untuk menunjukkan loyalitas dan disloyalitas. Dalam pertarungan pemilu, beragam ideologi dan fanatisme yang berbeda-beda itu bertarung. Setiap pilihan terhadap salah seorang kandidat dalam pertarungan ini, maka itu dianggap sebagai dukungan terhadapnya dalam menghadapi seterunya dan menolongnya untuk berkompetensi dengan seterunya. Sama halnya dengan perhelatan yang akan dilakukan di kampus kita tercinta. Itulah loyalitas sejati yang tidak terjadi kecuali di atas fondasi Islam.
Oleh karena Islam menjadi salah satu kekuatan yang para pembelanya terjun dalam kancah pertarungan terkait dengan dasar iman kepada Allah dan Rasul-Nya ini, yaitu pertarungan untuk menerapkan syari‘at Allah dan meruntuhkan berbagai sistem dan madzhab yang bertentangan dengan Islam, maka seluruh umat harus dimobilisasi untuk membela syari‘at Allah, serta mendasarkan loyalitas dan disloyalitasnya terhadap hal tersebut. Umat tidak boleh mendukung selain para pengusung syari‘at, dan tidak memberikan suara kecuali untuk kepentingan Islam, tidak membantu orang yang batil dan sekuler dalam pertarungan ini meskipun dengan separo suara, agar tidak terjadi fitnah dan seluruh kepatuhan hanya diberikan kepada Allah. (Shalah as-Shawi, hlm. 176)
Allah berfirman, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik).
"Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Ma’idah [5]: 78-81)
Bagaimana menurut Anda mengenai laknat yang menimpa suatu kaum hanya karena mereka makan, minum dan duduk bersama dengan para ahli maksiat. Lalu, bagaimana jika yang mereka lakukan lebih dari itu, yaitu menolong mereka, bukan menolong orang-orang mukmin dan mendukung mereka dalam satu sikap yang diharapkan bisa menjadi jalan bagi kemenangan Islam dan umat Islam? Bukankah ini adalah sikap mengabaikan orang-orang mukmin dan tanda akan datangnya perpecahan dan kerugian?
Bukan kekayaan yang akan kita tawarkan kepada rekan2 kita, namun hakikat syariat Alloh yang akan kita tawarkan dlam pemilihan besok, dengan usaha tersebut berharap bahwa Allohlah yang akan memenangkan dan akan mengubah kondisi kampus dengan hidayahNya. Selama hakikat loyalitas dan disloyalitas tidak belum tertanam kuat dalam kesadaran umat dengan kadar yang membuat mereka bisa memahami bahwa pembelaan mereka terhadap kebenaran meskipun mereka tidak memperoleh keuntungan materiil itu lebih baik daripada mendukung kebatilan untuk memperoleh sedikit kesenangan dunia yang kenikmatannya segera hilang dan pahitnya abadi, maka perjuangan Islam tidak akan kuat dalam kancah perang ini dan tidak akan bisa berbuat banyak.
Kalau daripihak luar banyak yg menjanjikan berbagai fasilitas kesenangan yang notabene adalah kemaksiatan2 dan kesenangan sementara, kita sebagai tangan2 Alloh tidak mampu menawarkan seperti itu, namun kita hanya sanggup berjanji kepada orang yang jujur untuk memperoleh ridha Allah dan surga. Kita tidak memiliki jabatan dan dana, karena jabatan adalah amanah yang tidak boleh diberikan kecuali kepada yang berhak menerimanya. Ia bukan hasil jarahan para kroni raja dimana mereka bisa membagi-bagikannya sesuka hati mereka tanpa ada kontrol dan pertanggungjawaban. Jadi kita di tunutut untuk pintar menjual apa yang akan kita bawa, dengan berbagai perubahan yg akan kita arahkan.
Sekali2 kita mengarahkan teman2 kita kepada murninya, syahadat kita. Bukan malah terutama dalam berjalan bersama kita merasa tertekan dengan apa yang dibawa, tapi bagaimana kita mengusung bersama untuk memurnikan syahadat yang kita ucapkan. Bukan karena masalah atau kepentingan sepihak sehingga kita saling membenci, padaha kita sama2 bertauhid dan mengesakan Alloh tapi kenapa kadang masih ada rasa tidak suka dan bahkan jadi memusihi orang-orang yang bertauhid dan memutuskan hubungan dengan mereka, maka ketika itu terjadi sebenarnya ia telah menggugurkan kehormatan La Ilaha Illallah, tidak mengagungkannya dan tidak menjalankan haknya meskipun ia mengaku sebagai muslim.
Politik Islam adalah Politik Prinsip
Kandidat yang kita ttawarkan mungkin tidak mampu melakukan apapun selain menjanjikan ridha Allah bagi para pemilih dan menegakkan agama yang karenanya Allah memperbaiki keadaan kampus. Karena Nabi SAW pernah meminta beberapa kabilah untuk menolong dan melindungi beliau agar beliau bisa menyampaikan risalah Tuhannya. Di antara kabilah yang beliau ajak bicara adalah Bani ‘Amir bin Sha‘sha‘ah.
Salah seorang dari mereka mengatakan, “Apa pendapatmu seandainya kami berbai‘at kepadamu mendukung misimu kemudian Allah memenangkanmu atas orang-orang yang menentangmu, apakah kami akan memegang kekuasaan sesudahmu?” Rasulullah SAW menjawab, “Kekuasaan itu kembali kepada Allah, Dia-lah yang memberikannya pada siapa yang dikehendaki-Nya.” Lalu orang itu berkata kepada Rasulullah SAW, “Apakah kami menyodorkan leher kami kepada orang-orang Arab untuk membelamu, lalu ketika Allah memenangkanmu maka kekuasaan itu jatuh ke orang lain? Kami tidak perlu dengan misimu itu.” Lalu mereka menolak permintaan Rasulullah SAW.”
Nabi SAW menolak menjanjikan sesuatu kepada mereka, karena kewenangan ada di tangan Allah, dan Dia memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Pelimpahan kewenangan itu memiliki syarat, kriteria dan caranya, bukan dengan warisan. Nabi SAW menolak permintaan itu pada waktu beliau sedang amat butuh terhadap perlindungan dan pertolongan. Tetapi, prinsip tidak bisa ditawar. Ia tidak mengenal intrik, dan tidak bisa menerima apapun selain menjalankan syari‘at Allah, kemudian sesudah itu Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
Saat ini kita diminta untuk berikhtiar memperjuangkan syariat Alloh melalui perhelatan kampus yg akan segera dilaksanakan. Bukan sekedar memperlihatkan “ini lho wajihah kita, punya ini” namun lebih dari itu, sebagai wujud pemaknaan syahadat kita yang menunjukkan seberapa besar iman dan amalan kita. Bukan mengedapakan egosentris, namun bagaimana kita bisa membawa risalaha Rasululloh untuk kita patrikan dalam setiap lembaga yang kita ikuti. Bukan sekedar “ini yang sesuai dengan jalan pikiranku!”. Sebagai langkah awal yaitu, membersihkan perjalanan dakwah kita di kampus dari fanatisme terhadap wajihah atau pemikiran yang kita kedepankan. Utamakanlah apa yang akan kita bawa, yaitu keberkahan dari Alloh, bukan bagaimana kita berkontribusi banyak dengan apa yang di bawa, karena itu menunjukkan ketidak syumulan kita dalam bergerak.
Semangat kawan satukan kata dan langkah kita dalam sebuah barisan untuk memenangkan ISLAM yang kita cintai. Ikhlaskan apa yang kita lakukan untuk sebuah keberkahan dakwah yang kita usung, jangan sampai ini membawa kita ke dalam jurang kemunafikan..
Maroji’ :
Alquran al karim
Dakwah Politik antara Pragmatisme dan Profesionalisme (Khalid Ahmad Asy-Syantut)
Sirah Nabawiyyah
banana7 // Agie Hirz