Senin, 24 Juni 2013

give and take

         Tarik ulur antara apa yang terjadi dalam hidup manusia, sangat erat sekali dengan usaha atau eksekusi  manusia tersebut. kalau ada yang mengatakan bahwa semua tergantung amal dan perbuatannya, itu memang ada benarnya juga walaupun hak preogative Allah atas takdir hambaNya jauh lebih besar, namun perlu di ingat bahwa Allah sekali lagi memliki sifat maha pengasih, maha penyayang, dan maha melihat. Allah tidak akan tinggal diam melihat usaha yang sudah kita lakukan, dan Allah maha pemurah dengan segala yang Ia miliki, jadi bagi manusia tidak perlu khawatir dengan hak preogative yang Allah miliki baik itu untuk suatu hal/ takdir yang sudah ditetapkan sekalipun.
         Berbicara takdir memang tidak ada habisnya. Yang perlu di garis bawahi adalah bagaimana manusia itu mengusahakan/ ikhtiar untuk perubahan yang ada pada dirinya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar Radu : 11 ... “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” .
         Terkait dengan takdir / ketetapan / qadha n qadar Allah SWT, saya ambil nukilan ayat Allah dari tulisannya blog tetangga yang menyatakan tentang pengaruh mutlaknya (ketetapan Allah), dan bahwa setiap peristiwa alami pasti telah didahului oleh Kehendak Ilahi dan bahwa hal itu telah tersurat sebelumnya dalam suatu “kitab yang nyata” ( lauh Mahfudz )
Misalnya :
“ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [ Al Hadid : 22 ]

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [ Al An'am : 59 ]

“Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?.” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.”
[ Ali Imron : 154]

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu
[ Al Hijr : 21]

”Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
[ At Tholaq :3]

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut (qadar) ukuran”
[ Al Qomar :49]

“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
[ Ibrahim : 4 ]

“Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
[ Ali Imron :26]

Sedangkan contoh ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia memiliki kebebasan dalam perbuatannya, mampu mempengaruhi masa depan dan nasibnya dan dapat pula mengubahnya selain dari ayat 11 QS Ar Radu yg cukup terkenal tersebut adalah sebagai berikut:

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian
kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”
[ An Nahl :112 ]

“dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
[ Al 'Ankabuut :40]

“dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”
[ Fushshilat:46]

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”
[ Al Insan :3]

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.”
[ Al Kahfi :29]

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia”
[ Ar Ruum :41]

Itulah dalil dalil ayat Al Qur'an yang menerangkan hakikat takdir dan nasib, smoga dapat kita fikirkan makna maknanya lalu kita temukan mutiara mutiara hikmah yg terkandung di dalamnya.
    
       Jadi selain kemutlakan yang kita dapatkan dari Allah atas diri kita, masih banyak kesempatan untuk kita memperoleh apa yang kita harap atau dambakan tanpa berpusing atau putus asa atas apa yang kita lakukan terkait dengan ketetapan yang telah Allah buat. Tidak perlu takut dengan masa depan yang memang menjadi  rahasia besar setiap insan, yang perlu di garis bawahi adalah live must go on, we must prepare d'best for get somethings better than we've estimated. Apapun hasilnya perlu di ingat bahwa Allah menjawab doa-doa kita, memberikan atas ikhtiar kita dalam 3 cara :
1. Bila ALLAH mengatakan YA;
maka kita akan MENDAPATKAN APA YG KITA MINTA.
2. Bila ALLAH mengatakan TIDAK;
maka kita akan MENDAPATKAN YG LEBIH BAIK.

3. Bila ALLAH mengatakan TUNGGU;
maka kita akan MENDAPATKAN YG TERBAIK SESUAI DGN KEHENDAK-NYA.



         Sekuat apapun  usaha kita, sebanyak apapun pengorbanan kita, kalau memang belum waktunya, nikmatillah karena di saat itulah kita sedang di latih Allah SWT untuk lebih mengenal siapa kita dan menikmati hidup dengan nikmatnya sabar dan sukur. Always move on, GIVE d BEST and TAKE d BEST.

ALLAH SWT TIDAK PERNAH TERLAMBAT,
DIA JUGA TIDAK TERGESA-GESA,
DIA SELALU TEPAT WAKTU!

   
        Wallohu'alam bi showab,,semoga tulisan ini bisa menjadi benteng saya untuk istiqomah, sabar dan syukur dengan ketetapan-ketetapan Allah dan begitupun untuk kawan-kawan semua,  امين يا رب العا لمين...
       

Kamis, 09 Mei 2013

may day vs outsourcing

Tepat satu hari setelah may day, ndak sengaja duduk sebelahan dengan mae/may/nama lengkapnya maemunah. Berawal dari pertanyaan ringan tentang kapan dia mulai gabung dengan smartfren? Tinggal dimana? Lulusan apa? Dan ternyata setelah ngobrol cukup jauh mae berasal dari satu daerah juga Cilacap yakni tetanggaan kecamatan. Ngobrol cukup lama akhirnya cerita nasib kita yang sama-sama masih berada di bawah vendor.
A: ‘Saya dari vendor X, gaji pertama lumayan may, kamu gimana?’
M : ‘lumayan si nggi, tapi gaji berikutnya masa g turun2 -_- hufftt’
A : ‘yang bener may?emang vendormu apaan?’
M : ‘JKM’
Mbatin ki jeneng vendor apa jeneng pemutih wajah, haaa
Padahal baru may day, malahan ni ada cerita lama di perusahaan yang cukup mapan.
Cerita tentang outsourching mang ga ada matinya. Dari zaman baheula hideung masalah ini mah sudah jadi benalu sistem tenaga kerja. Pertama, sejarah mencatat outsourcing telah ada sejak zaman Yunani dan Romawi. Pada zaman tersebut, akibat kekurangan dan kemampuan pasukan dan tidak terkendalinya ahli-ahli bangunan, bangsa Yunani dan Romawi menyewa prajurit asing untuk berperang dan para ahli-ahli bangunan untuk membangun kota dan istana.
Sejalan dengan revolusi industri di Eropa, maka perusahaan-perusahaan berusaha untuk menemukan terobosan-terobosan baru dalam memenangkan persaingan. Pada tahap ini untuk mengerjakan sesuatu tidak cukup untuk menang secara kompetitif, melainkan harus disertai dengan kesanggupan untuk menciptakan produk paling bermutu dengan biaya terendah.
Sebelum Perang Dunia II, Kerajaan Inggris merekrut serdadu Gurkha yang terkenal dengan keberaniannya. Saat Perang Dunia II berlangsung, 1945-1950, Amerika Serikat adalah negara yang paling banyak menerapkan outsourcing untuk keperluan perang. Praktik outsourcing kemudian berkembang luas di perusahaan multinasional sejalan dengan perlunya mereka beroperasi secara efisien dan fokus terhadap bisnis mereka. Perancis kini merupakan negara yang paling berkembang dalam menerapkan outsourcing.
Dikarenakan adanya pasar global dan godaan tenaga kerja murah, dunia industri manufaktur mengalami peningkatan tenaga kerja pada dekade 1980-an. Pada tahun-tahun berikutnya, praktek outsourcing didorong oleh satu dari sepuluh butir kesepakatan dalam Washington Consensus yang mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja harus bersifat fleksibel sebagai sebuah syarat investasi.
Sejarah kedua adalah di Zaman Belanda, di Indonesia Sendiri perkembangan outsourcing dibagi ke dalam dua masa, yaitu zaman pra-kemerdekaan dan masa pasca kemerdekaan. Pada masa pra-kemerdekaan (penjajahan) dikenal danya Deli Planters Vereeniging. Pada masa ini, outsourcing diperkenalkan seiring maraknya sistem tanam paksa (monokultur) seperti tebu, kopi, tembakau, sekitar tahun 1879. pemerintah kolonial Hindia Belanda membuat program besar-besaran dalam upaya menghasilkan barang-barang devisa di pasar internasional. Salah satu upayanya adalah membuka investasi di sektor perkebunan di daerah Deli Serdang. Kebijakan itu diatur oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda dalam peraturan No. 138 tentang Koeli Ordonantie. Peraturan tersebut kemudian direvisi
lagi dengan dikeluarkannya surat keputusan Gubernur Jendral Pemerintah Hindia Belanda Nomor 78.
Peraturan tersebut dikeluarkan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif seraya membuka lapangan kerja bagi para penganggur yang miskin. Regulasi ini kemudian mampu mendorong laju investasi sektor perkebunan tembakau di Deli sesuai regulasi yang sudah dikeluarkan yang mengatur tentang ketentuan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja (koeli) perkebunan maka pada tahun 1879 dibentuklah organisasi yang diberi nama Deli Planters Vereeniging. Organisasi tersebut bertugas untuk mengordinasikan perekrutan tenaga kerja yang murah. Selanjutnya, Deli Planters Vereeniging ini membuat kontrak dengan sejumlah biro pencari tenaga kerja untuk mendatangkan buruh-buruh murah secara besar-besaran terutama dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Deli Planters Vereeniging bekerjasama dengan para Lurah, para Kepala Desa, para calo tenaga kerja, untuk mengangkut kaum Bumiputra meninggalkan kampung halamannya menuju tanah perkebunan. Mereka kemudian diangkut ke Batavia, dan di Batavia mereka wajib menandatangani perjanjian kontrak yang saat itu disebut sebagai Koeli Ordonantie. Orang jawa saat itu tepat untuk melakukan pekerjaan tersebut, karena sifat yang mudah mengalah dan mudah diajak kompromi. Pada zaman ini, konon justru si pelaksana lebih berkuasa dari pada si pemilik investasi.
Setelah tiba di perkebunan (onderneming), para kuli orang Jawa tersebut dipekerjakan di bawah pengawasan mandor yang bertanggung jawab atas disiplin kerja. Para mandor ini mendapatkan upah sebesar 7,5% dari hasil kelompok upah para kuli yang dipimpinnya. Pada umumnya, para pemilik perkebunan menerapkan suatu bentuk organisasi dengan hirarki dimana kinerja para mandor ini diawasi oleh mandor kepala, dan selanjutnya para mandor kepala ini diawasi oleh asisten pengawas. Para asisten pengawas ini bertanggungjawab kepada administratur perkebunan. Selanjutnya, para administratur bertanggungjawab kepada tuan juragannya, yaitu para investor yang memiliki perkebunan itu.
Pada masa itu, yang paling berpengaruh dan paling berkuasa atas para kuli adalah para atasan langsungnya yaitu para mandor dan mandor kepala. Mereka ini yang paling sering melakukan pemerasan terhadap para koeli. Pemerasan yang dialami oleh para kuli bukan hanya dari pemerasan langsung yang dilakukan oleh mandor dan mandor kepalanya saja.
Selain di perkebunan, pada masa pendudukan Belanda sekitar Abad XIX, sistem outsourcing juga sudah dikenal dalam kehidupan buruh pelabuhan di Tanjung Priok. Menurut penelitian yang dilakukan Razif, aktivis Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), para buruh Pelabuhan Tanjung Priok direkrut oleh kelompok buruh yang disebut sebagai animer. Oleh para animer, tenaga kerja itu biasanya didatangkan dari Jawa Barat. Secara getok-tular, dari mulut ke mulut, kaum muda di perkampungan Lebak, Banten, Cianjur, mereka berbondong-bondong menjual tenaganya. Di kampungnya, produksi pertanian tidak lebih menjanjikan dibanding migrasi ke Tanjung Priok dimana bisa memperoleh uang dari upah memburuh.

Outsourcing Masa Kemerdekaan
Sebelum diundangkannya Undang-Undang No 13 Tahun 2003, outsourcing diatur dalam KUH Perdata Pasal 1601 b. Pasal tersebut mengatur bahwa pemborongan suatu pekerjaan adalah kesepakatan dua belah pihak yang saling mengikatkan diri, untuk menyerahkan suatu pekerjaan kepada pihak yang saling mengikatkan diri, untuk menyerahkan suatu pekerjaan kepada pihak lain dan pihak lainnya membayarkan sejumlah harga. Tetapi pengaturan dalam KUH Perdata masih belum lengkap karena belum diatur terkait pekerjaan yang dapat dioutsourcingkan, tanggung jawab perusahaan pengguna dan penyedia tenaga kerja outsourcing dan jenis perusahaan yang dapat menyediakan tenaga kerja outsourcing.
Sedangkan setelah UU No 13/2003, berdasarkan hasil penelitian PPM (Riset Manajemen: 2008) terhadap 44 perusahaan dari berbagai industri terdapat lebih dari 50% perusahaan di Indonesia menggunakan tenaga outsourcing, yaitu sebesar 73%. Sedangkan sebanyak 27%-nya tidak menggunakan tenaga outsourcing dalam operasional di perusahaannya. Hal ini menunjukkan perkembangan outsourcing di Indonesia begitu pesat perkembangan outsourcing ini didorong dengan adanya  Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003, dalam Undang-Undang tersebut tersebut, kebutuhan tenaga kerja untuk menjalankan produksi disuplai oleh perusahaan penyalur tenaga kerja (outsourcing). Di satu sisi tenaga kerja (buruh) harus tunduk dengan perusahaan penyalur, di sisi lain harus tunduk juga pada perusahaan tempat ia bekerja. Kesepakatan mengenai upah ditentukan perusahaan penyalur dan buruh tidak bisa menuntut pada perusahaan tempat ia bekerja.
Sementara itu, di perusahaan tempat ia bekerja, harus mengikuti ketentuan jam kerja, target produksi, peraturan bekerja, dan lain-lain. Setelah mematuhi proses itu, baru ia bisa mendapat upah dari perusahaan penyalur. Hubungan sebab akibat antara bekerja dan mendapatkan hasil yang dialami buruh tidak lagi mempunyai hubungan secara langsung. Bila tanpa lembaga penyalur, buruh memperoleh upah dari perusahaan tempat ia bekerja sebagai majikan, kini harus menunggu perusahaan tempat ia bekerja membayar management fee kepada perusahaan penyalur sebagai majikan kedua, baru ia memperoleh kucuran upah.
Selain hal di atas, dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenaga kerjaan jelas diatur bahwa adanya perusahaan penyedia tenaga kerja outsourcing, yang berbentuk badan hukum, dan bertanggung jawab atas hak-hak tenaga kerja. Selain itu, diatur juga bahwa hanya pekerjaan penunjang saja yang dapat di outsourcingkan.
Lantas dimanakah kemerdekaan pekerja berada? Sampai kiamatpun klo sistem masih belum bisa berbenah sampai ke akarpun ga bakal ada ujungnya.

dinakertransjatim.org.id

Senin, 01 April 2013

pekan 5

Pertemuan pekan ke-5.

Alhamdulillah setelah 4x pertemuan, kami selalu kekurangan 1 personel, akhirnya kami brsua bersama, lengkap dalam sebuah aktivitas rutin.
aktivitas yg mengiringi libur akhr pekan yg lumyn panjang, sebelum saya berkemas meninggalkan zona nyaman yg sdh saya dapatkan. dimulai dengan bismillah, doa, shalawat, tilawah dst, suasana yg tentunya senantiasa ku rindukan dan sudah saatnya ini menjadi kebutuhan, bukan sekedar kewajiban seorang yang meyakini indahnya kebersamaan dalam hidup berjamaah. di awali dengan kultum mengenai hadist ke-4 yang bercerita mengenai penciptaan manusia, takdir yang tertulis atasnya (cocok banget buta teh ine yang sedang memasuki masa 6 bulan kehadiran calon buah hatinya).
Kemudian ada sdkit penyampain lanjutan mengenai kewajiban manusia atas loyalitasnya terhadap tuhan-Nya dari mba iin. cukup membuka wawasan karena lagi-lagi materi ini muncul dan lagi-lagi materi ini tetap menggugah dan membuat kami bangkit untuk menjadi hamba-Nya yang lebih baik dalam menjalankan kehidupan kami di jalan-Nya serta memnjadi makhluk sosial yang mampu hidup berdampingan dengan lebih hangat. banyak cerita yang di torehkan, dan satu pesan yang cukup mba iin tekankan adalah banyak pihak yang terus ingin menggerus dakwah ini, mereka terus mencari celah kekurangan aktivitas dakwah ini dan mba iin berpesan, agar kami tetap tenang, nahkan tutup kuping rapat2, buka mata n pikiran di bulan2 berikutnya, karena kedepan akan semakin banyak konspirasi yang dilakukan 'mereka' untuk semakin menciutkan nama dakwah ini di hati orang banyak, yakni dengan berbagai pemberitaan yang sudah mereka siapkan.(mereka ingin mencari tahu, dari mana si kekayaan dakwah kami?hmmmm, kami berjuang bersama, mengumpulkan harta bersama untuk kemenangan dakwah yang kami usung, bukan sprti mereka yg bersama-sama mencari keuntungan bersama ga peduli rayatnya kecolongan yang penting mereka g kurang atw rugi.luar biasa kalau mereka tahu perjuangan n pengorbanan kami, harusnya kenalan dulu jangan asal menjudge gtu...dasar irian aja c mereka liat kemenangan kami. bukannya introspeksi diri malah cari-cari kesalahan orang lain).
dan mba iin pun meyakinkan kami bahwa,,sebaik apapun makar manusia, namun makar Allahlah yang paling baik dan akan mengalahkan makar2 manusia.

sharing session yang cukup saya nikmati, tersenyum bersama, tertawa bersama, ngudap bareng-bareng, pertemuan kali ini benar-benar saya rasakan hangat sekali ya Rabb, entah ini yang terakhir untuk saya dengan mereka atau mungkin akan menjadi pembakar semangat awalan episode kehidupan saya berikutnya yang saya belum  bisa meraba akan seperti apa? dan saya berharap pekan depan bisa berkumpul lebih hangat dari pertemuan ini.

session terakhir, ya curhat rame-rame.
dari mba wina yang lagi memulai memikirkan kehidupannya yang merasa kurang mendapat kehangatan hidup bersosial. 'kalo buat aku n suami c enak-enak aja, tapi kasihan buat kak nayla, dia gda temen seumuran'. entah kenapa Allah memberikan aku kesempatan untuk menikmati zona nyaman, namun kita kan g slalu brada d zona nyaman, dan pasti selalu harus bisa keluar dari zona nyaman karena hidup lebih hidup karena tantangan bukan kenyamanan, Allahpun kdang mengusir perlahan untuk keluar dari zona nyaman utk lbh mengnal sosialita nyata.  mba wina yg mulai memikirkan kehidupan putrinya, rumah masa depannya, aktivitas beliau kedepannya. itulah hidup, luar biasa untuk dijalani yang tidak sekedar ala kadarnya.

giliran kedua adalah ade. alhamdulillah kerjaan lancar n smoga ade g kyk mba wina yg disuruh Allah untuk berhijrah, karena lo Ade hijrah y harus pindah k surabaya atw medan.hee
Ade sedang merasa dicuekin oleh dosbingnya. 'ade g tau bisa april apa ngga? dari kemarin dosennya susah d hubungi, tulisan ade g prnah d cek, g tau deh mungkin mw ade garap dulu aja skripsinya. dosennya gbsa d telp n sms, pngennya d tungguin aja seketemunya.' di doain aja de dosennya, celetuk mba ine. wah itu pengalaman mba ine y? tanya ade... smw tertawa n mba ine pun mengiyakan, dan itulah kekuaan doa yang bisa mengalahkan semua dimensi sisi ghaib yang kita tidak bisa menjangkaunya. semua ngledek, semoga segera kelar kuliahnya biar segera bsa melanjutkan ke urusan selanjutnya,heee (pangeran yang d nanti2 smga sgra datang mksdnya.hihiiii, ade jadi tersipu malu)

selanjutnya giliran aku. ak lagi siap2 pindhn liburan ini. lha gmn d stasiun tv itu? sela mb iin. karena belum ada kbar selanjutnya ak putusn pindahan/transit k tempat mbak dulu mba iin, karena kedepannya aktvtsku bnyk d bsd. jadi mau g mau ak harus keluar dari zona nyaman ini n segera merapat dengan sanak keluarga dulu. saya c msh berharap ttp bisa kumpul dsini, namun jam kerja d bsd memang g memungkinkan(ngelus dada). saya berharap bsa ttp stay dsini, semua pun berharap bgitu. minggu dpan msh kumpul2 ma kita kn?(mba iin) insyaAllah mbam :)
semua mendoakan semoga Allah tunjukkan n mudahkan utk mndapat yang terbaik untuk aktvts agy,aamiin...

giliran teh ine yg terakhir,, sdh 4 pekan bliau g ikut mrasakan kehangatan ini. teh ine merasa lagi lemes n males,,(semua  tertawa). nikmatnya mengandung sedang bliau rasakan, dari lemes karena gbsa makan, males karena bawaannya sutet trus, kerja jga jadinya MagabuT, rumah g keurus, suamipun  kadang jadi sasaran kemalesannya. sampai ibunya berpesan 'banyak2 istighfar ne.'luar biasa proses penciptaan seorang anak manusia, seorang ibu dengan berbagai tipe masa2 awal kehamilannya, ada yang lemes n males kyk mba ine, ad jga yg ngebo kayak mba wina yang bsa motoran sndiri d 4 bulan kehamilannya, ada yang pusing2, ada yang kolokan ma suami, ada juga yg hrus smpe rawat inap di RS. setiap orang dpt rizqinya masing2 n yg terpenting adalah bahwa itulah perjuangan seorang ibu yang patut kita acungi jempol n kita balas dengan kepatuhan n kesholehan kita.

episode yang luar biasa yang memberikan saya pencerahan n semangat bahwa jalan hidup saya masih panjang untuk sekedar saya habiskan dlm aktvts standar.
dan sya msh brharap bsa stay brsama zona nyaman yg sudah saya raih saat ini. brsama mereka yg mengispirasi, memotivasi, b'pngalaman, n mampu untuk jadi teman berbagi.
5 pekan brsama, waktu yg tak sdikit ya Rabb...

Sabtu, 23 Maret 2013

cinta dari sang pengukir sejarah

love is somethings that intangible...
anak2 sekrng pada seneng banget lagu cinta, apalgi pengulngan cinta yg tiada henti dalam setiap liriknya dg nada memelas, mrayu (lebay bin alay),,hooo ^.^  piss

boleh di rasakan, boleh di ungkapkan, boleh dilampiaskan asal jangan berlebih. tentunya pada orang yang bersahabat n waktu yang tepat.
tak perlu di ungkapkan dengan aku cin*a kamu, itumah gombal gombel omongane pating srendel,komitmen serius aja blum punya,,hee

sekali lagi,cinta itu g ada tapi bsa dirasakan jadi alangkah bijaknya jika cinta di artikan dalam makna yg lebih dari sekedar kata meyakinkan namun kesabaran yang menenangkan dan keyakinan bahwa Allah akan membalas cinta kita dengan sesuatu yang indah.

seperti band kenamaan negeri ini NO*H,, slama saya mendengarkan lagu2nya belum pernah saya mendengar kata sayang n cinta,, mereka memang mungkin benar-benar lahir untuk melukiskan sejarah di dunia musik. karena bukan hanya saya saja yang cukup nyaman mendengar lagunya yang romantis namun vtak kayaka gombalan, tapi kebanyakan yang lain mau laki atau perempuan, rasanya gampang aja masuk ke genre musiknya NO*H.
ya itulah cinta sekali lagi tak perlu di ucapkan secara lebay dan alay, namun wujudkan dalam aktivitas kita dengan kesabaran n keyakinan bahwa cinta yg kita bangun adalah sebuah hal yang suci yang akan Allah balas dengan cinta yang lebih indah....aamiiin.............

Jumat, 22 Maret 2013

99 cahaya di langit Eropa

         Ga ada kata terlambat untuk berkarya. termasuk untuk membaca. Tidak semata mengejar value added dari buku ini, tapi saya akan sensasi lebih ketika saya mampu mendokumentasikan apa yang telah saya baca apalagi bisa membagikan informasinya kepada teman-teman yang lainnya. Pertama liat buku ini, saya perhatikan covernya yang temen-temen bisa lihat di bawah, dimana ada berbagai tempat-tempat suci berbagai agaman dan kepercayaan yang tersebar d Eropa. Sedikit menggambarkan pluralitas kehidupan di negeri yang notabene sebagian besar penduduknya adalah non-Muslim.


           Membaca judulnya saja sudah terbersit bahwa penulis (mba Hanum dan mas Rangga) ingin menyampaikan tentang sebuah sinar sempurna yang pernah ada di benua Eropa kala itu. Sebuah karya yang menggugah seorang muslim bahwasanya kepercayaannya itu tidak seburuk apa yang sedang di boomingkan banyak pihak yang fobi islam.
          Dari buku ini banyak pelajaran yang bisa diambil, bahwa kebudayaan, teknologi dan agama tidak bisa dipisahkan dan harus saling berdampingan untuk mengarahkan manusia ke kehidupan yang lebih baik.
Dari napak tilas yang dilakoni penulis, membuka wawasan kepada pembaca bahwa dari pengalaman sejarah dan peradaban manusia, yang lebih penting bagi umat islam sekarang ini tidak lagi menyibukkan dalam pembahasan keunggulan yang telah dicapai umat masa lampau atau memperdebatkannya, namun bagaimana umat islam kembali unggul dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kembali terdepan dan menjadi pemimpin dalam ilmu pengetahuan dan peradaban dunia, atas prestasi nyata yang ditunjukkannya.
         Perjalanan penulis di negeri minoritas muslim, ternyata membuatnya kaya atas dimensi spiritual, yakni untuk mengenal islam dengan gaya dan cara yang berbeda. Eropa tidak sekedar dengan menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser MOzart, Stadion sepak bola San Siro, Colosseum Roma, atau gondola-gondola di Venezia. Namun banyak tempat ziarah yang bagus yang akhirnya menghantarkan penulis pada kecintaanya dengan agamanya 'islam'.
         Eropa dan islam pernah menjadi pasangan yangs serasi. Harmonisasi itu tampak pada gagahnya katedral Mezquita Cordoba, cantiknya Istana Al-Hambra Granada atau Hagia Sophia Istanbul. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2x lebih besar dari wilayah kekaisaran Roma di bawahJulius Caesar. Tidak banyak yang tahu pula bahwa peradaban Islam-lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini.
        Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat paris dan London beriri hati. Islam pertama kali masuk ke Spanyol membawa kedamaian dan kemajuan peradaban, jauh sebelum dan lebih lama daripada Indonesia mengenal Islam. Lantas kenapa saat ini cahaya itu mulai meredup dari bumi Eropa?
        Umat Islam terdahulu adalah traveler yang tangguh. Jauh sebelum Vasco de Gama menemukan Semenanjung Harapan atau Colombus menemukan benua Ameriak, musafir-musafir Islam telah menyebrangi 3 samudera hingga Indonesia berkelana jauh sampai ujung negeri China, menembus Himalaya dan Padang Pasir Gobi.
         Perjalanan ini membuka mata penulis bahwa Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya kesempurnaan ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan, kebudayaan dan kedamaian.

Selasa, 12 Maret 2013

Karena Wanita selalu indah...

         Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kita di ciptakan tanpa sia dan penuh dengan makna. Dimana Allah dengan kesempurnaan-Nya telah menganugerahkan berlipat nikmat kepada kita semua dari ujung rambut hingga dasar telapak kaki.

Dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin (QS.Luqman :20)

         Mengambil sedikit kutipan cerpen bang Tere Liye dalam judul Berjuta Rasa, di chapter pertama diceritakan tentang bagaimana jika semua wanita cantik? Hal objektif akan mengatakan semua wanita cantik, namun beda ceritanya jika yang bercerita adalah hal subjektif. Cantik atau indahnya makhluk Tuhan tak lepas dari apa yang ada di hatinya dan ketahuilah bahwasanya yang tidak terlihatlah atau yang abstraklah yang lebih kekal. Coba bayangkan ketika seorang lelaki memilih pasangannya hanya sekedar wanita itu indah di lihat secara lahir, yang namanya bentuk lahir tak ada yang abadi dan mungkin berubah ke dalam bentuk yang jauh dari kondisi awal. Maka seiring berjalan waktu keindahan lahir seseorang akan pudar dan hilang megikuti gerusan usia yang tak terelakan. Wanita yang dulunya cantik ketika bertambah umur, kecantikan atau keindahan fisiknya akan hilang, dan apakah gara2 gerusan usia ini sang lelaki meninggalkan kekasih tersayangnya tersebut? bisa jadi dan bahkan banyak terjadi di dunia kita saat ini.
          Allah memang mencintai keindahan, tetapi indah disini lebih ke dalam bentuk yang kekal tidak instan dimana indah karena seseorang itu memiliki keistimewaan yang tiada dua dan tiada tergerus usia yang berlari mengejar waktu kontrak manusia hidup di dunia, dan keindahan abadi ada pada hal hati dan akal manusia itu sendiri yang jelas membedakannya dengan makhluk lainnya sebagai makhluk yang paling sempurna.
           Dalam catatan ini saya ingin berbagi cerita mengenai wanita sebagai makhluk Tuhan yang istimewa karena katanya'dari sudut pandang manapun, wanita memiliki nilai artistik tersendiri'. Dimanapun tak akan terasa manis kalo ga ada wanita (kata salah satu official finance di Sea Games ke-26). Ada juga yang mengatakan wanita itu makhluk yang lemah tapi lembut dan karenanyalah wanita memiliki nilai khas yang memang berfungsi sebagai pewarna segala suasana.
     
    Itu baru pandangan manusia biasa, tahukah anda tidak hanya pria yang kagum pada sosok wanita, Allah pun terkagum dengan sosok ciptaan-Nya ini. Banyak hal yang membuat wanita mempesona tidak lain karena kemulaian yang dimiliknya, dimana seorang lelaki besarpun tak lain karena di belakangnya ada benteng seorang wanita yang kuat dan tangguh membersamainya.
          Allah memuliakan sosok wanita dan di Al-Quran pun bisa kita dapati beberapa ayat yang menerangkan mengenai kisah-kisah wanita sholihah dan mulai, seperti ketaqwaan Maryam yang di abadikan namanya dalam QS.Maryam. Seruan Allah kepada setiap wanita untuk berjilbab dalam QS.Al-Ahzab :59 dengan tujuan agar wanita muslimah lebih mudah dikenal, dan terhindar dari gangguan.
          Jelas sekali bukti cinta Allah terhadap wanita dalam QS.33 :59 di atas, tak lain karena Allah maha Pengampun dan maha Penyayang, namun para musuh islam berupaya mengaitkan seruan kasih Allah dengan pengekangan dan mereka membungkus seruan kebebasan atau emansipasi dengan nilai-nilai islam yang tampak sempurna. banyak konspirasi yang dimunculkan melalui argumen-argumen pembebasan kaum hawa dari pengekangan syariat islam dengan mengajak kaum hawa aktif turun ke jalan selayaknya para shahabiyah yang turun ke medan ke medan perang padahal pada zaman kegemilangan itu, hal pertama bahwa kepergian wanita ke medan perang bukan sebuah faktor penting, dan mereka pergi atas nama pribadi dan bukan atas nama kelompok. kedua para wanita itu tidak ikut serta keluar medan jihad kecuali dengan izin Rasulullah dan atas desakan dari mereka sendiri. Ketiga keperanan wanita di medan perang disesuaikan dgn kodrat kewanitaannya. Mereka tidak ikut latihan berkuda sebagaimana yg dilakukan kaum lelaki juga tidak bersenjatakan pedang atau perisai. Kecuali krn situasi yg sangat mendesak dan gawat seperti yg dilakukan oleh Nusaibah binti Ka’b yg membela Rasulullah dgn pedangnya pada perang Uhud juga sahabat wanita yg lain seperti Rumaisha’ yg dgn golok merobek perut tiap kaum musyrikin yg melewatinya. Keempat dan ini yg terpenting para wanita yg pergi ke medan jihad tidak berangkat kecuali dgn mahram yg senantiasa menyertainya.
            Dari sini jelaslah bahwa para wanita Islam-sesuai fakta sejarah- tidak ikut serta membentuk pasukan militer seperti yg dilakukan kaum lelaki di medan jihad. Dan secara hukum mereka tidak diwajibkan memenuhi panggilan jihad sebagaimana kaum lelaki. Dan kalau misalnya ikut serta maka keperanannya di medan jihad adl sebatas kodrat kewanitaannya. Hal ini berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyah
Aku ikut berperang bersama Nabi sebanyak tujuh kali aku menggantikan mereka dalam menjaga perbekalan aku buatkaan mereka makanan aku obati mereka yg terluka dan aku menjaga mereka yg sakit.
           Membuat makanan mengobati orang terluka dan menjaga orang sakit adl pekerjaan yg memang sesuai dgn kodrat wanita. Di masyarakat manapun memang itulah peranan yg seyogyanya di perankan oleh wanita. Dan perlu digarisbawahi keikutsertaan wanita dalam melakukan hal-hal di atas dalam suasana perang- hanyalah sunnah tidak wajib.
          Dia adalah kitab kehidupan, baca dan pahamilah hatinya. Bacalah diamnya, bacalah bicaranya, bacalah wajahnay, bacalah sorot matanya, bacalah bibirnya. Dalami dan renungkan sosok wanita. karena darinyalah kita mengerti makna cinta, makna kesetiaan, makna pengorbanan, makna keindahan yang sesungguhnya. 




Rabu, 06 Maret 2013

istiqomah di jalan dakwah


ISTIQOMAH DI JALAN DAKWAH :

Dakwah yang merupakan salah satu sendi aktivitas kehidupan kita, semsetinya tidak untuk sekedar kita jalani melainkan kita nikmati. Proses ini bertujuan agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati untuk kita cintai. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.
Terkadang perjuangan dakwah ini begitu berat. Di tengah lingkungan yang sibuk dengan urusan duniawi dan masyarakat yang sekuler, tak jarang kita merasa begitu lelah dan sendirian. Ketika kawan-kawan seperjuangan satu persatu mundur teratur. Ditambah jika kita berjuang di negeri asing, di mana masyarakatnya tidak mengenal Islam dan materi menjadi Tuhan. Perasaan ini wajar, bahkan berkah dari Allah SWT agar kita selalu istiqomah dengan tujuan hidup ini dan nilai-nilai yang kita perjuangkan.
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Alloh dan rasul-Nya serta berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh memberikan keputusannya. dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (At-Taubah;24).
Yang harus diingat adalah apakah kita terjun dalam dakwah karena orang-orang yang sudah futur tadi atau karena Alloh? jika karena orang-orang tadi maka cepat atau lambat kita akan mengikuti jejak mereka. Namun jika karena Alloh maka seberat apapun beban dakwah yang didapat maka akan selalu teringat tujuan awal kita.
Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata: Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Dari hadist tersebut di atas, kandungan isi yang bisa kita ambil bahwa dua pokok permasalahan besar dalam Islam, yaitu Iman dan Istiqamah. Iman merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam kehidupan nyata.
Dari pertanyaan Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman dan istiqamah memiliki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Dua hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman merupakan pondasi keislaman seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat/ 41 : 30).
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”


Hakekat Istiqamah
Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk infinitif dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya dan substansinya, digambarkan sebagai berikut :
Abu Bakar al-Shiddiq.
Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, ‘istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.).
Umar bin Khatab.
Umar bin Khatab pernah mengatakan: Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang seperti menyimpangnya rubah.
Usman bin Affan.
Beliau mengatakan mengenai istiqamah, “Beristiqamahlah kalian yaitu ikhlaskanlah amal kalian hanya kepada Allah swt.
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istiqomah adalah implementasi dari nilai-nilai keimanan kepada Allah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Sehingga jika diimplemenatasikan dalam kehidupan dakwah kontemporer, seorang kader yang istiqomah, ia akan tetap konsisten menekuni jalan da’wah, apapun resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Seorang pejuang dakwah di parlemen yang istiqamah misalnya, akan senantiasa memperjuangkan ‘panji-panji’ dakwah, dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ragu dan bimbang serta tidak tergoda dengan segala godaan duniawi. Dan seorang al-akh yang istiqomah adalah al-akh yang ‘berani’ untuk tetap konsisten memperjuangkan ideologi dakwahnya yang benar, meskipun bertentangan dengan rekan-rekannya yang mungkin lebih senior, lebih struktural ataupun lebih ‘besar’ dalam pandangan manusia.
Manusia tetaplah manusia, kendatipun takwanya ia. Ia pasti pernah berbuat kekeliruan ataupun kesalahan. Oleh karenanya, untuk memperjelas masalah ini, dalam salah satu ayat-Nya di dalam Al-Qur’an, Allah swt menggandeng antara istiqamah dengan istighfar kepada Allah swt., yaitu sebagaimana yang terdapat dalam QS. Fushilat/ 41 : 6 :
“Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya).”
Ayat di atas menggambarkan, bahwa setiap insan pasti pernah melakukan satu kelalaian atau kesalahan, tanpa terkecuali siapapun dia. Oleh karenanya, seorang muslim yang baik adalah yang senantiasa introspeksi diri terhadap segala kekurangan dan kesalahan-kesalahannya, untuk kemudian berusaha memperbaikinya dengan terlebih dahulu beristighfar dan bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt.
Terlebih ketika mengarungi jalan dakwah yang penuh lubang dan duri, serta  jarak tempuh yang seolah bagaikan lautan tiada bertepi. Di sana banyak manusia-manusia yang beragam asal-usulnya, berbeda latar belakangnya.Tentulah hal ini memerlukan keistiqamahan dalam mengarunginya. Karena benturan, perbedaan ataupun kesilapan diantara sesama aktivis dakwah pasti terjadi. Mustahil jika manusia sebanyak itu tidak pernah saling salah paham. Sedangkan suami istri yang telah diikat dengan kalimatullah, hidup bersama siang dan malam, pagi dan sore, masih memiliki perbedaan-perbedaan yang
sulit dihindarkan. Apatah lagi, bagi sebuah kelompok besar yang masing-masing memiliki interest tersendiri. Namun yang lebih penting adalah, pasca kesalahan tersebut, apa yang ia perbuat kemudian?
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, Dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Buah Istiqamah
Istiqamah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :
1.            Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)
2.            Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan ta’yiid/ pertolongan dan dukungan dari para malaikat.
3.            Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.
Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)

Cara untuk Merealisasikan Istiqamah
1.            Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Diantara tanda-tanda ikhlas adalah: fokus untuk menggapai ridha Allah dan kesabaran dalam menempuh suatu proses yang panjang.
2.            Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan.
3.            Diperlukan adanya kesabaran.
4.            Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
5.            Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.
6.            Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut.
7.            Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.
8.            Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.
9.            Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah terwujud.

Ibarat orang yang lari maraton 10 km, maka ia tidak boleh berlari sprint pada 100 m awal, kemudian setelah itu ia kelelahan. Perlu di ingat bahwa ada ataupun tiadanya kita, dakwah akan tetap berjalan, so keep spirit to fight straight away!


istiqomah di jalan dakwah


ISTIQOMAH DI JALAN DAKWAH :

Dakwah yang merupakan salah satu sendi aktivitas kehidupan kita, semsetinya tidak untuk sekedar kita jalani melainkan kita nikmati. Proses ini bertujuan agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati untuk kita cintai. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.
Terkadang perjuangan dakwah ini begitu berat. Di tengah lingkungan yang sibuk dengan urusan duniawi dan masyarakat yang sekuler, tak jarang kita merasa begitu lelah dan sendirian. Ketika kawan-kawan seperjuangan satu persatu mundur teratur. Ditambah jika kita berjuang di negeri asing, di mana masyarakatnya tidak mengenal Islam dan materi menjadi Tuhan. Perasaan ini wajar, bahkan berkah dari Allah SWT agar kita selalu istiqomah dengan tujuan hidup ini dan nilai-nilai yang kita perjuangkan.
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Alloh dan rasul-Nya serta berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh memberikan keputusannya. dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (At-Taubah;24).
Yang harus diingat adalah apakah kita terjun dalam dakwah karena orang-orang yang sudah futur tadi atau karena Alloh? jika karena orang-orang tadi maka cepat atau lambat kita akan mengikuti jejak mereka. Namun jika karena Alloh maka seberat apapun beban dakwah yang didapat maka akan selalu teringat tujuan awal kita.
Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata: Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Dari hadist tersebut di atas, kandungan isi yang bisa kita ambil bahwa dua pokok permasalahan besar dalam Islam, yaitu Iman dan Istiqamah. Iman merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam kehidupan nyata.
Dari pertanyaan Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman dan istiqamah memiliki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Dua hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman merupakan pondasi keislaman seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat/ 41 : 30).
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”


Hakekat Istiqamah
Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk infinitif dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya dan substansinya, digambarkan sebagai berikut :
Abu Bakar al-Shiddiq.
Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, ‘istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.).
Umar bin Khatab.
Umar bin Khatab pernah mengatakan: Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang seperti menyimpangnya rubah.
Usman bin Affan.
Beliau mengatakan mengenai istiqamah, “Beristiqamahlah kalian yaitu ikhlaskanlah amal kalian hanya kepada Allah swt.
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istiqomah adalah implementasi dari nilai-nilai keimanan kepada Allah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Sehingga jika diimplemenatasikan dalam kehidupan dakwah kontemporer, seorang kader yang istiqomah, ia akan tetap konsisten menekuni jalan da’wah, apapun resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Seorang pejuang dakwah di parlemen yang istiqamah misalnya, akan senantiasa memperjuangkan ‘panji-panji’ dakwah, dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ragu dan bimbang serta tidak tergoda dengan segala godaan duniawi. Dan seorang al-akh yang istiqomah adalah al-akh yang ‘berani’ untuk tetap konsisten memperjuangkan ideologi dakwahnya yang benar, meskipun bertentangan dengan rekan-rekannya yang mungkin lebih senior, lebih struktural ataupun lebih ‘besar’ dalam pandangan manusia.
Manusia tetaplah manusia, kendatipun takwanya ia. Ia pasti pernah berbuat kekeliruan ataupun kesalahan. Oleh karenanya, untuk memperjelas masalah ini, dalam salah satu ayat-Nya di dalam Al-Qur’an, Allah swt menggandeng antara istiqamah dengan istighfar kepada Allah swt., yaitu sebagaimana yang terdapat dalam QS. Fushilat/ 41 : 6 :
“Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya).”
Ayat di atas menggambarkan, bahwa setiap insan pasti pernah melakukan satu kelalaian atau kesalahan, tanpa terkecuali siapapun dia. Oleh karenanya, seorang muslim yang baik adalah yang senantiasa introspeksi diri terhadap segala kekurangan dan kesalahan-kesalahannya, untuk kemudian berusaha memperbaikinya dengan terlebih dahulu beristighfar dan bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt.
Terlebih ketika mengarungi jalan dakwah yang penuh lubang dan duri, serta  jarak tempuh yang seolah bagaikan lautan tiada bertepi. Di sana banyak manusia-manusia yang beragam asal-usulnya, berbeda latar belakangnya.Tentulah hal ini memerlukan keistiqamahan dalam mengarunginya. Karena benturan, perbedaan ataupun kesilapan diantara sesama aktivis dakwah pasti terjadi. Mustahil jika manusia sebanyak itu tidak pernah saling salah paham. Sedangkan suami istri yang telah diikat dengan kalimatullah, hidup bersama siang dan malam, pagi dan sore, masih memiliki perbedaan-perbedaan yang
sulit dihindarkan. Apatah lagi, bagi sebuah kelompok besar yang masing-masing memiliki interest tersendiri. Namun yang lebih penting adalah, pasca kesalahan tersebut, apa yang ia perbuat kemudian?
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, Dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Buah Istiqamah
Istiqamah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :
1.            Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)
2.            Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan ta’yiid/ pertolongan dan dukungan dari para malaikat.
3.            Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.
Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)

Cara untuk Merealisasikan Istiqamah
1.            Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Diantara tanda-tanda ikhlas adalah: fokus untuk menggapai ridha Allah dan kesabaran dalam menempuh suatu proses yang panjang.
2.            Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan.
3.            Diperlukan adanya kesabaran.
4.            Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
5.            Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.
6.            Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut.
7.            Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.
8.            Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.
9.            Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah terwujud.

Ibarat orang yang lari maraton 10 km, maka ia tidak boleh berlari sprint pada 100 m awal, kemudian setelah itu ia kelelahan. Perlu di ingat bahwa ada ataupun tiadanya kita, dakwah akan tetap berjalan, so keep spirit to fight straight away!