Tampilkan postingan dengan label ikhlas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikhlas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2017

sabar dan syukur obat terhebat menahan sakitnya rasa "why me"

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8)
Sebagai makhluk yang tak sempurna mungkin pernah dan sering mengatakan manusia tidak adil. Tentu banyak alasan kenapa mengatakan manusia tidak adil salah satunya mendorong manusia tidak adil karena kebencian. Bila ada rasa kebencian pada seseorang, sekelompok, partai politik tertentu. Kemungkinan suatu ketika atau suatu saat akan melakukan sikap tidak adil karena lebih mengikuti hawa nafsu. Padahal sikap tidak adil, mengikuti hawa nafsu dan menyelimpang dari kebenaran akan membawa manusia pada sebuah kesesatan yang nyata.
Lagi pula Allah SWT berulang-ulang menjelaskan dalam Al-quran agar manusia bisa bersikap adil dalam segala hal. Seperti Allah SWT tegaskan dalam surah An-Nahl ayat 90 “Sesungguhnya Allah SWT menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah SWT melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Tapi rata-rata manusia tidak bisa bersikap adil. Kendati berupaya untuk bisa adil. Bila merujuk pada ayat 129 surah Annisa dikatakan bahwa sekali-sekali manusia tidak akan dapat berlaku adil walaupun sangat ingin berlaku adil. Jika manusia tidak adil sangat wajar karena manusia adalah makhluk tak akan pernah bisa adil. Jika ada manusia berani mengatakan orang yang adil. Maka perlu dipertanyakan dan diragukan. Apakah kesemua orang dia bisa menerapkan adil? Jangan-jangan dia adil hanya pada orang tertentu saja. Lihat saja orang tua pada anak mereka masing-masing, masih terdapat kecondongan berat sebelah dan agak susah menerapkan adil.
Mari kita lihat apa itu defenisi adil sesungguhnya. Adil berasal dari bahasa arab yang berarti di tengah-tengah, jujur, lurus dan tulus. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran. Orang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hukum baik hukum agama, hukum Negara maupun hukum sosial yang berlaku. Oleh karena itu orang yang adil selalu bersikap imparsial, suatu sikap yang tidak memihak kecuali pada kebenaran. Bukan berpihak karena bertemanan, persamaan suku, politik, bangsa maupun agama. Atas dasar itu berani mengatakan manusia tidak akan bisa adil, karena dalam kehidupan sehari-hari sering kita menemui orang tak bersikap adil yang mana saat memutus sesuatu atau memilih seorang untuk menduduki jabatan tentu yang didasari oleh kesamaan politik, bertemanan dan suku.
Tetapi pernahkah manusia mengatakan tidak adil pada Allah SWT saat-saat diberi pujian/dipuja, disayangi banyak orang, dilapangkan rezeki, diberi wajah gagah/manis, dihormati, diberi penghargaan, diberi keluarga tentram, diberi kesehatan, aib yang masih disembunyikan oleh Allah SWT dengan rapat-rapat, diberi jabatan dan anak-anak yang berbakti serta sholeh/shalihah. Mungkin tak pernah terucap kata tak adil dari mulut kita pada Allah SWT bilamana kondisi seperti itu. Malahan keadaan seperti itu sering membuat kita lupa dengan Tuhan, berbuat semena-menanya dan melahirkan sikap angkuh.Lalu bagaimana dengan sang pencipta apakah kita pernah mengatakan Allah SWT tidak Adil. Mungkin di antara kita pernah terucap mengatakan hal seperti itu pada sang maha adil Disaat kondisi seperti apa kita mengatakan Tuhan tidak adil. Biasanya manusia mengatakan tidak adil pada Allah SWT tatkala mendapat ujian, ketika keinginan tak tercapai, ketika tak berlimpahnya rezki, ketika disakiti, ketika sakit, ketika susah, ketika tak memiliki fisik tak tampan/cantik, ketika membandingkan dirinya dengan orang lain. Itu lah kondisi-kondisi manusia sering mengatakan Allah SWT tak adil. Kenapa sampai beraninya kita mengatakan Tuhan tidak adil? Apakah karena kita sudah melakukan adil sehingga begitu lantang mengucapkan kalimat seperti itu pada sang maha pemurah dan penyayang.
Dari sini pula kita sadar bahwa cara manusia menilai atau mensyukuri nikmat Allah SWT juga tak adil. Bila diberi kenikmatan tak pernah sama sekali berkata “ tak adil”. Bila boleh jujur tak selayaknya kita memperoleh pujian, penghargaan dan limpahan rezki dariNya. Karena merasa belum memiliki kehebatan apapun dibanding orang lain tapi Allah SWT gerakkan manusia untuk menghargai, menjanjungi atau menghormati kita. Coba bertanya dengan diri kita!!! Ketika mendapat musibah atau bencana, belum dihijabannya doa kita kenapa begitu cepat mengatakan Allah SWT tak adil? Sesungguhnya yang tidak adil adalah diri kita sendiri. Di mana salah menilai keadilan Tuhan. Setiap keputusan yang Allah SWT tetapkan pada manusia semua adalah unsur kebaikan. Jangan pernah lagi terucap kalimat tak adil bagi sang maha adil dan maha kasih. Yuuk kita bermusabah apakah Allah SWT benar-benar tidak adil dengan kita? atau sebaliknya Allah SWT begitu adilnya terhadap kita? Padahal kita jarang sujud padaNya, sering melupakanNya, sering tak mentaati aturanNya dan hampir setiap hari menciptakan dosa. Tapi apa balasan Allah SWT pada kita!!! Tetap melancarkan segala kegiataan, mempermudahkan rezki, mencurahkan keberkahaan dan menyanyangi dengan membentangkan alam raya serta mengirimkan tangan-tanganNya melalui kebaikan orang lain untuk mencintai atau menghargai kita.
Sesungguhnya hanya Allah SWT adalah yang maha adil, yang maha tepat meletakkan sesuatu, maha tahu kapan keinginan harus terwujud, maha pemberi keputusan yang benar, dan maha pengasih pada seluru hambanya. Untuk itu, bagaimanapun kondisi saat ini syukuri setiap ketatapanNya pada kita. Dengan sikap seperti itu kita menjadi manusia yang tenang dan positif thinking dengan segala hal yang terjadi. 
(diambil dari dakwatuna.com/hdn)

Rabu, 06 Maret 2013

istiqomah di jalan dakwah


ISTIQOMAH DI JALAN DAKWAH :

Dakwah yang merupakan salah satu sendi aktivitas kehidupan kita, semsetinya tidak untuk sekedar kita jalani melainkan kita nikmati. Proses ini bertujuan agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati untuk kita cintai. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.
Terkadang perjuangan dakwah ini begitu berat. Di tengah lingkungan yang sibuk dengan urusan duniawi dan masyarakat yang sekuler, tak jarang kita merasa begitu lelah dan sendirian. Ketika kawan-kawan seperjuangan satu persatu mundur teratur. Ditambah jika kita berjuang di negeri asing, di mana masyarakatnya tidak mengenal Islam dan materi menjadi Tuhan. Perasaan ini wajar, bahkan berkah dari Allah SWT agar kita selalu istiqomah dengan tujuan hidup ini dan nilai-nilai yang kita perjuangkan.
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Alloh dan rasul-Nya serta berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh memberikan keputusannya. dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (At-Taubah;24).
Yang harus diingat adalah apakah kita terjun dalam dakwah karena orang-orang yang sudah futur tadi atau karena Alloh? jika karena orang-orang tadi maka cepat atau lambat kita akan mengikuti jejak mereka. Namun jika karena Alloh maka seberat apapun beban dakwah yang didapat maka akan selalu teringat tujuan awal kita.
Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata: Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Dari hadist tersebut di atas, kandungan isi yang bisa kita ambil bahwa dua pokok permasalahan besar dalam Islam, yaitu Iman dan Istiqamah. Iman merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam kehidupan nyata.
Dari pertanyaan Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman dan istiqamah memiliki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Dua hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman merupakan pondasi keislaman seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat/ 41 : 30).
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”


Hakekat Istiqamah
Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk infinitif dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya dan substansinya, digambarkan sebagai berikut :
Abu Bakar al-Shiddiq.
Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, ‘istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.).
Umar bin Khatab.
Umar bin Khatab pernah mengatakan: Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang seperti menyimpangnya rubah.
Usman bin Affan.
Beliau mengatakan mengenai istiqamah, “Beristiqamahlah kalian yaitu ikhlaskanlah amal kalian hanya kepada Allah swt.
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istiqomah adalah implementasi dari nilai-nilai keimanan kepada Allah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Sehingga jika diimplemenatasikan dalam kehidupan dakwah kontemporer, seorang kader yang istiqomah, ia akan tetap konsisten menekuni jalan da’wah, apapun resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Seorang pejuang dakwah di parlemen yang istiqamah misalnya, akan senantiasa memperjuangkan ‘panji-panji’ dakwah, dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ragu dan bimbang serta tidak tergoda dengan segala godaan duniawi. Dan seorang al-akh yang istiqomah adalah al-akh yang ‘berani’ untuk tetap konsisten memperjuangkan ideologi dakwahnya yang benar, meskipun bertentangan dengan rekan-rekannya yang mungkin lebih senior, lebih struktural ataupun lebih ‘besar’ dalam pandangan manusia.
Manusia tetaplah manusia, kendatipun takwanya ia. Ia pasti pernah berbuat kekeliruan ataupun kesalahan. Oleh karenanya, untuk memperjelas masalah ini, dalam salah satu ayat-Nya di dalam Al-Qur’an, Allah swt menggandeng antara istiqamah dengan istighfar kepada Allah swt., yaitu sebagaimana yang terdapat dalam QS. Fushilat/ 41 : 6 :
“Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya).”
Ayat di atas menggambarkan, bahwa setiap insan pasti pernah melakukan satu kelalaian atau kesalahan, tanpa terkecuali siapapun dia. Oleh karenanya, seorang muslim yang baik adalah yang senantiasa introspeksi diri terhadap segala kekurangan dan kesalahan-kesalahannya, untuk kemudian berusaha memperbaikinya dengan terlebih dahulu beristighfar dan bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt.
Terlebih ketika mengarungi jalan dakwah yang penuh lubang dan duri, serta  jarak tempuh yang seolah bagaikan lautan tiada bertepi. Di sana banyak manusia-manusia yang beragam asal-usulnya, berbeda latar belakangnya.Tentulah hal ini memerlukan keistiqamahan dalam mengarunginya. Karena benturan, perbedaan ataupun kesilapan diantara sesama aktivis dakwah pasti terjadi. Mustahil jika manusia sebanyak itu tidak pernah saling salah paham. Sedangkan suami istri yang telah diikat dengan kalimatullah, hidup bersama siang dan malam, pagi dan sore, masih memiliki perbedaan-perbedaan yang
sulit dihindarkan. Apatah lagi, bagi sebuah kelompok besar yang masing-masing memiliki interest tersendiri. Namun yang lebih penting adalah, pasca kesalahan tersebut, apa yang ia perbuat kemudian?
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, Dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Buah Istiqamah
Istiqamah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :
1.            Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)
2.            Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan ta’yiid/ pertolongan dan dukungan dari para malaikat.
3.            Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.
Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)

Cara untuk Merealisasikan Istiqamah
1.            Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Diantara tanda-tanda ikhlas adalah: fokus untuk menggapai ridha Allah dan kesabaran dalam menempuh suatu proses yang panjang.
2.            Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan.
3.            Diperlukan adanya kesabaran.
4.            Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
5.            Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.
6.            Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut.
7.            Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.
8.            Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.
9.            Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah terwujud.

Ibarat orang yang lari maraton 10 km, maka ia tidak boleh berlari sprint pada 100 m awal, kemudian setelah itu ia kelelahan. Perlu di ingat bahwa ada ataupun tiadanya kita, dakwah akan tetap berjalan, so keep spirit to fight straight away!