ISTIQOMAH
DI JALAN DAKWAH :
Dakwah yang merupakan salah satu sendi aktivitas kehidupan kita, semsetinya
tidak untuk sekedar kita jalani melainkan kita nikmati. Proses ini bertujuan
agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati
untuk kita cintai. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka,
tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan,
sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.
Terkadang perjuangan dakwah ini begitu berat. Di tengah lingkungan yang
sibuk dengan urusan duniawi dan masyarakat yang sekuler, tak jarang kita merasa
begitu lelah dan sendirian. Ketika kawan-kawan seperjuangan satu persatu mundur
teratur. Ditambah jika kita berjuang di negeri asing, di mana masyarakatnya
tidak mengenal Islam dan materi menjadi Tuhan. Perasaan ini wajar, bahkan
berkah dari Allah SWT agar kita selalu istiqomah dengan tujuan hidup ini dan
nilai-nilai yang kita perjuangkan.
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu,
saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat
tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Alloh dan rasul-Nya serta
berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh memberikan keputusannya. dan
Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (At-Taubah;24).
Yang harus diingat adalah apakah kita terjun dalam dakwah karena
orang-orang yang sudah futur tadi atau karena Alloh? jika karena orang-orang
tadi maka cepat atau lambat kita akan mengikuti jejak mereka. Namun jika karena
Alloh maka seberat apapun beban dakwah yang didapat maka akan selalu teringat
tujuan awal kita.
Dari Abu Amr
atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata: Aku berkata,
Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak
akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab,
“Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Dari hadist tersebut di atas, kandungan isi yang bisa kita ambil bahwa
dua pokok permasalahan besar dalam Islam, yaitu Iman dan Istiqamah. Iman
merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan
istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam
kehidupan nyata.
Dari pertanyaan Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman
dan istiqamah memiliki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan
nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Dua hal ini merupakan aspek yang sangat
penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman merupakan pondasi keislaman
seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia.
Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan.
Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus
menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat/
41 : 30).
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka
(dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa
sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan
Allah kepadamu.”
Hakekat Istiqamah
Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk infinitif
dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya
dan substansinya, digambarkan sebagai berikut :
Abu Bakar al-Shiddiq.
Suatu ketika
orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang
istiqamah. Abu Bakar menjawab, ‘istiqamah adalah bahwa engkau tidak
menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. Abu Bakar menggambarkan istiqamah
dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.).
Umar bin Khatab.
Umar bin Khatab
pernah mengatakan: Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus dalam
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang
seperti menyimpangnya rubah.
Usman bin Affan.
Beliau
mengatakan mengenai istiqamah, “Beristiqamahlah kalian yaitu ikhlaskanlah amal
kalian hanya kepada Allah swt.
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istiqomah
adalah implementasi dari nilai-nilai keimanan kepada Allah secara konsisten
dalam kehidupan sehari-hari baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Sehingga
jika diimplemenatasikan dalam kehidupan dakwah kontemporer, seorang kader yang
istiqomah, ia akan tetap konsisten menekuni jalan da’wah, apapun resiko dan
konsekuensi yang harus dihadapinya. Seorang pejuang dakwah di parlemen yang
istiqamah misalnya, akan senantiasa memperjuangkan ‘panji-panji’ dakwah, dengan
segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ragu dan bimbang serta
tidak tergoda dengan segala godaan duniawi. Dan seorang al-akh yang istiqomah
adalah al-akh yang ‘berani’ untuk tetap konsisten memperjuangkan ideologi
dakwahnya yang benar, meskipun bertentangan dengan rekan-rekannya yang mungkin
lebih senior, lebih struktural ataupun lebih ‘besar’ dalam pandangan manusia.
Manusia tetaplah manusia, kendatipun takwanya ia. Ia pasti pernah
berbuat kekeliruan ataupun kesalahan. Oleh karenanya, untuk memperjelas masalah
ini, dalam salah satu ayat-Nya di dalam Al-Qur’an, Allah swt menggandeng antara
istiqamah dengan istighfar kepada Allah swt., yaitu sebagaimana yang terdapat
dalam QS. Fushilat/ 41 : 6 :
“Katakanlah:
‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku
bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang
lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang
besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya).”
Ayat di atas
menggambarkan, bahwa setiap insan pasti pernah melakukan satu kelalaian atau
kesalahan, tanpa terkecuali siapapun dia. Oleh karenanya, seorang muslim yang
baik adalah yang senantiasa introspeksi diri terhadap segala kekurangan dan
kesalahan-kesalahannya, untuk kemudian berusaha memperbaikinya dengan terlebih
dahulu beristighfar dan bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt.
Terlebih ketika mengarungi jalan dakwah yang penuh lubang dan duri, serta jarak tempuh yang seolah bagaikan lautan
tiada bertepi. Di sana banyak manusia-manusia yang beragam asal-usulnya,
berbeda latar belakangnya.Tentulah hal ini memerlukan keistiqamahan dalam mengarunginya.
Karena benturan, perbedaan ataupun kesilapan diantara sesama aktivis dakwah
pasti terjadi. Mustahil jika manusia sebanyak itu tidak pernah saling salah
paham. Sedangkan suami istri yang telah diikat dengan kalimatullah, hidup
bersama siang dan malam, pagi dan sore, masih memiliki perbedaan-perbedaan yang
sulit dihindarkan. Apatah lagi, bagi sebuah kelompok besar yang masing-masing
memiliki interest tersendiri. Namun yang lebih penting adalah, pasca kesalahan
tersebut, apa yang ia perbuat kemudian?
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, Dari Anas bin Malik ra,
bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan
sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)
Buah Istiqamah
Istiqamah
memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam
Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :
1. Istiqamah merupakan jalan menuju ke
surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada
mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu
merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)
2. Berdasarkan ayat di atas, istiqamah
merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan ta’yiid/
pertolongan dan dukungan dari para malaikat.
3. Istiqamah merupakan amalan yang
paling dicintai oleh Allah swt.
Dalam sebuah hadits
digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat
sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan
berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah
dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara
kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling
dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit.
(HR. Bukhari)
Cara untuk Merealisasikan Istiqamah
1. Mengikhlaskan niat semata-mata hanya
mengharap Allah dan karena Allah swt. Diantara
tanda-tanda ikhlas adalah: fokus untuk menggapai ridha Allah dan kesabaran
dalam menempuh suatu proses yang panjang.
2. Bertahap dalam beramal. Dalam
artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu
yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus
bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin
meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya
keistiqamahan.
3. Diperlukan adanya kesabaran.
4. Istiqamah tidak dapat direalisasikan
melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman
(QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat
Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?
Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia
telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
5. Istiqamah juga sangat terkait erat
dengan tauhidullah. Mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan
fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari
kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita
merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.
6. Istiqamah juga akan dapat
terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun
amalan yang kita lakukan tersebut.
7. Istiqamah juga akan sangat terbantu
dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan
lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita
salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang
mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa
atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang
tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.
8. Memperbanyak membaca dan mengupas
mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya,
kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru
mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan
tersebut.
9. Memperbanyak berdoa kepada Allah,
agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita,
namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah
terwujud.
Ibarat orang
yang lari maraton 10 km, maka ia tidak boleh berlari sprint pada 100 m awal,
kemudian setelah itu ia kelelahan. Perlu di ingat bahwa ada ataupun tiadanya
kita, dakwah akan tetap berjalan, so keep spirit to fight straight away!