di awali dari perpindahan ruang pribadi alias rolling kamar. di awal memang terasa ketika kuliah sembari bekerja waktu terasa sempit. ketika kesempatan untuk hidup d kampus lebih bebas terasa bahwa saya seolah-olah menyi-nyiakan waktu dan penyesalan terjadi di akhir mulai terasa.
Kamar baru, sahabat baru, berharap mendapat motivasi yg lebih untuk menghargai waktu. namun ini bentuk tarbiyah Alloh SWT agar saya mampu belajar dan berfikir, sehingga saya sadari teman baru saya sering sekali menghabiskan waktu luang untuk tidur n aktifitas lain yg menurut saya kurang produktif.
Ttergelitik sekaligus ingin memotivasi diri bahwa saya harus bisa menghargai waktu yang ada, hatta saya mulai mencari referensi agar mata saya melek dan mampu berupaya untuk bisa menghargai waktu lebih baik.
semoga bermanfaat....
Al-Waqtu Huwa al-Hayâh (waktu adalah kehidupan)
Sudah terlalu dekat dan melekat sampai kita lupa akan hakikatnya. Tiga suku kata yang sangat mendalam maknanya dalam samudera kehidupan yang luas dan kompleks, yang terdiri dari ‘(tiga) suku kata arab, namun sangat representative untuk menggambarkan arti pentingnya waktu bagi kehidupan manusia, yaitu ungkapan 'al-waqtu huwa al-hayâh (waktu adalah kehidupan)’. Sekali lagi, yaitu 'waktu adalah kehidupan.'
Kehidupan sebagai waktu yang dilalui manusia dimulai ia dilahirkan hingga ia wafat. Dengan definisi kehidupan seperti di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, seseorang yang membiarkan waktunya berlalu sia-sia, dan lenyap begitu saja, sama artinya ia dengan sengaja atau tidak sengaja telah melenyapkan sisa-sisa masa kehidupannya. Al-Hasan al-Bashri berkata,
“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan hari-hari”,
maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
Cobalah sekarang ingat kembali berapa lama waktu yang anda habiskan untuk sekedar istirahat, bercerita, tertawa, tidur atau hal-hal yang terasa indah baik untuk pribadi atau halayak ramai, sehari anda pasti habiskan untuknya bisa mencapai 5 jam setiap harinya. Bayangkan seandainya anda hidup hanya sekitar 60 tahun, maka 5 jam itu akan menghabiskan hampir seperempat masa kita di dunia. Luar biasa ternyata kita menghabiskan waktu hidup kita sekitar 20 tahunan untuk aktivitas yang belum pasti nilainya. Sekali bahwa ketika kita menyia-nyiakan dan membuang waktu kita tanpa hal yang berarti untuk agama dan kemaslahatan umat, maka ketika itu juga sesungguhnya kita telah membunuh diri kita sendiri. Betapa waktu itu sangat berharga dan jangan biarkan ia berlalu begitu saja.
Allah Subhanahu wa Ta'ala Bersumpah dengan Waktu dan Bagiannya
Karena sangat pentingnya Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah terkait waktu dalam beberapa surat:
“Demi waktu fajar, Demi waktu Dhuha, Demi Malam, Demi Siang, Demi Waktu”
Kenapa Allah bersumpah hanya dengan kalimat yang pendek-pendek, yang tak jahr maksudnya??? Itulah kaitannya dengan ayat pertama yang Allah turunkan. Manusia disuruh untuk terus berfikir sehingga bisa meraih apa arti sebenarnya yang Allah sembunyikan, karena dari yang tersembunyi itulah insan berfikir dapat semakin dekat dengan sang Khalik. Seperti Ulil Albab di dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. ": Al Imran :190).
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. ": Al Imran :191 )
Berbisnis Amal Dengan Allah SWT
Sejauh mana kita melangkah dan berbuat di masa-masa sebelum ini? Maka sudah selazimnya menjadi kewajiban bagi seorang muslim terhadap dirinya untuk melakukan muhâsabah an-nafsi 'intropeksi diri', yaitu menghitung-hitung dirinya atas tahun dan hari-hari yang telah ia lalui, seberapa besar nilai yang kita berikan, seberapa indah senyuman yang ditunggingkan orang-orang yang menyertai kita, seberapa dalam kesedihan yang mungkin kita goreskan atas orang lain, atau bahkan makhluk bernyawa dan tak bernyawa yang tidak kita penuhi hak-haknya.
Seperti apa yang dilakukan oleh seorang bisnisman yang menginginkan kesuksesan dengan modalnya pada setiap tahunnya, ia menghitung-hitung kembali perdagangannya, berapa modal yang telah ia keluarkan, berapa pemasukannya, di mana ia mengalami kerugian dan apa masalahnya, dan di mana keuntungannya, berapa besar keuntungannya dari pada kerugiannya, ketika kerugiannya lebih besar dari pada keuntungannya maka ia menjadi sangat menyesal sekali dan mengalami kesedihan yang luar biasa, dan sebaiknya ketika keuntungannya lebih besar dari pada kerugiannya maka ia merasa senang dan bergembira sekali, untuk selanjutnya ia melakukan kalkulasi bisnisnya kembali, mengatur dan membuat jadwal untuk tahun berikutnya.
Yang demikian itu dalam urusan duniawi, begitu ihtimaam (perhatiannya)dan sangat telitinya ia dalam urusan dunia ini. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan anda tidak akan dianiaya sedikitpun.”(QS.An-Nisaa:77)
Nabi Musa berkata di dalam al-Qur`an :
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan
sementara, sesungguhnya akhirat itulah kesenangan yang kekal.” (QS.Al Maun : 39)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
Karena itu muhasabatunnafsi merupakan suatu keharusan, seandainya tidak sanggup setiap hari untuk instropeksi/menghitungkan dirinya hendaklah dilakukan pada setiap pekan, maka kalaupun setiap pekan ia masih juga tak dapat melakukannya, maka hendaklah setiap bulan, dan kalau tidak bisa juga maka hendaklah ia melakukan instropeksi diri pada setiap tahun.
Padahal dapat kita lihat salah seorang sahabat yang dijamin mendapatkan syurga, padahal dia tidak bergelut dengan pedang, tidak berceramah di atas mimbar dll, hanya karena muhasabah setiap malam menjelang tidur, ketelatenannya dalam memohon ampun dan memaafkan dengan ikhlas segala kesalahan saudaranya sepanjang hari, mampu membawanya dalam rahmat Allah SWT, bagaimana dengan kita?? Boro-boro memaafkan kesalahan orang lain, kesalahan sendiripun dianggap biasa dan lalai serta mengulanginya untuk kesekian kalinya, naudzubillah sungguh seandainya seperti itu, kita berada dalam golongan orang yang merugi.
Belajar Dari Manusia Yang Allah Cintai
Para salafus soleh meninggalkan banyak pelajaran berharga dalam menghargai waktu. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, sepanjang hidupnya tercatat telah mengumpulkan 358 ribu halaman dari berbagai karangannya. Jika kita perkirakan masa kanak-kanak beliau sebelum baligh 14 tahun, maka dapat disimpulkan beliau menulis 14 halaman setiap harinya. Begitu perhatiannya beliau dengan waktu, sampai-sampai ketika kurang lebih sejam sebelum kematiannya beliau masih menyempatkan diri menulis suatu do`a yang baru ia dengar dari Ja`far bin Muhammad. Begitu pula dengan Imam Ibnu al-Qayyim yang tidak rela kehilangan waktunya karena safar (suatu perjalanan), sehingga selama safarnya beliau mengisinya dengan menulis sehingga menghasilkan karya Zaadul Ma`aad. Imam Nawawi yang tidur dengan bersandarkan sebuah buku yang ditegakkan pada dagunya, begitu buku itu terjatuh maka beliau terjaga dan kembali menggoreskan tintanya. Majduddin Abu al-Barakat `Abdussalam, kakek dari Imam Ibnu Taimiyah, tiap kali masuk ke kakus, beliau memerintahkan anaknya (orang tua Imam Ibnu Taimiyah) untuk membacakan suatu kitab dengan suara keras, hingga terdengar olehnya. Tak aneh jika sikap sang kakek ini tertular kepada cucunya. Suatu ketika Imam Ibnu Taimiyah jatuh sakit, dokter menyarankan agar beliau untuk sementara waktu menghentikan dulu kegiatan belajar mengajarnya karena hal itu dikhawatirkan dapat memperparah kondisinya. Berkata Imam Ibnu Taimiyah kepada dokternya, "bukankah jika jiwa yang bahagia dan gembira dapat memperkuat daya tahan tubuh", sang dokter membenarkannya. "Maka sesungguhnya jiwaku merasa tenang jika berinteraksi dengan ilmu, dan tubuhku terasa kuat dan hanya dengan itu saya dapat beristirahat."
Maha suci Allah, mengingat kisah khalifah pertama Abubakar Ra, yang memiliki kesempurnaan iman, disaksikan sendiri oleh rasulullah Saw dalam sabdanya:
“Jika ditimbang keimanan Abubakar dengan keimanan seluruh umat akan lebih berat keimana Abubakar.”(HR. Al Baihaqi dalam Asysyiib)
Tak lain adalah karena keuletannya dalam menghabiskan waktunya untuk bersama dengan Muhammad Saw sang penggenggam hujan, sehingga Abubakar memiliki karakter yang tak jauh beda dengan sang Rasul. Bahkan ketika Umar Ra dengan keyakinan mampu mengejar Abubakar untuk segera beramal di awal hari, ternyata Abubakar sudah berada barisan terdepan.
Optimalkan Amal
Umur manusia merupakan rahasia Allah Subhanahu wa Ta'ala Kualitas umur seseorang sangat menentukan posisinya di alam kehidupan berikutnya. Jika dari waktunya diperuntukkan hanya karena Allah (lillah) maka kematiannya adalah baik baginya. Namun sebaliknya jika waktu dan umurnya dihabiskan untuk menuruti kesenangan nafsu dan dan ambisi syahwat hewaninya maka kematiannya merupakan petaka besar baginya. Al-Hasan al-Bashri berkata,
“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan harihari”,
maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
Ibnu Mas`ud Radhiyallahu 'Anhu (salah seorang sahabat besar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam) berkata:
"Tidak ada yang lebih aku sesali, kecuali bila matahari telah terbenam maka
berkuranglah masa ajalku, namun tidak bertambah sedikitpun amalanku."
Berkata Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah,
"Sesungguhnya malam dan siang terus bekerja dalam dirimu, maka bekarjalah
di dalam siang dan malammu."
Bekerjalah pada siang dan malammu, janganlah mengakhirkan pekerjaan siang untuk dikerjakan di malam harinya, dan janganlah mengakhirkan pekerjaan malam ke siang harinya. Janganlah pekerjaan hari ini di akhirkankan hingga esok harinya dan janganlah pekerjaan esok karena malas diakhirkan hingga lusanya. Jangan katakan, "Nanti akan kuamalkan, sebentar lagi akan kukerjakan." Karena setiap manusia akan ditanya pada hari kiamat, mengenai umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang ilmunya sudahkah ia amalkan, dan tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia belanjakan ?. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam:
Tidak akan bergeser kedua kaki manusia pada hari Kimat hingga (ia) ditanya
tentang:
(HR. At-Tirmidzi)
Dan sebuah penegasan yang amat jelas tentang hakikatnya hidup manusia dalam penghabisan masa jabatannya di dunia, yakni dalam Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr : 1-3)
Sungguh terbukti kebenaran ucapan Imam Syafi`i mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
Bahwa seandainya (al-Qur`an) tidak diturunkan kecuali (hanya) surat (al-Ashr) ini, maka hal itu sudah cukup memadai bagi manusia sekalian. Nikamtilah kehidupan kita seolah akan hidup selamanya dan terus beramal, dan lakukan amalan itu dengan lurus sehingga terasa hidup selamanya di dunia dengan keberkahan dari sang pencipta sehingga rahmat yang dinantipun terbukakan. Dan tak lain segala aktivitas kembali hanya untuk Allah SWT semata dan hanya akan kembali padaNya, sebagaimana firmanNya berikut:
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji-pujian; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Surah At-Taghaabuun:1)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik, hidayah dan keberkahan-Nya dalam hidup dan umur kita. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar