Tampilkan postingan dengan label agie hirz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agie hirz. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Maret 2013

istiqomah di jalan dakwah


ISTIQOMAH DI JALAN DAKWAH :

Dakwah yang merupakan salah satu sendi aktivitas kehidupan kita, semsetinya tidak untuk sekedar kita jalani melainkan kita nikmati. Proses ini bertujuan agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati untuk kita cintai. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.
Terkadang perjuangan dakwah ini begitu berat. Di tengah lingkungan yang sibuk dengan urusan duniawi dan masyarakat yang sekuler, tak jarang kita merasa begitu lelah dan sendirian. Ketika kawan-kawan seperjuangan satu persatu mundur teratur. Ditambah jika kita berjuang di negeri asing, di mana masyarakatnya tidak mengenal Islam dan materi menjadi Tuhan. Perasaan ini wajar, bahkan berkah dari Allah SWT agar kita selalu istiqomah dengan tujuan hidup ini dan nilai-nilai yang kita perjuangkan.
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Alloh dan rasul-Nya serta berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh memberikan keputusannya. dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (At-Taubah;24).
Yang harus diingat adalah apakah kita terjun dalam dakwah karena orang-orang yang sudah futur tadi atau karena Alloh? jika karena orang-orang tadi maka cepat atau lambat kita akan mengikuti jejak mereka. Namun jika karena Alloh maka seberat apapun beban dakwah yang didapat maka akan selalu teringat tujuan awal kita.
Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata: Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Dari hadist tersebut di atas, kandungan isi yang bisa kita ambil bahwa dua pokok permasalahan besar dalam Islam, yaitu Iman dan Istiqamah. Iman merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam kehidupan nyata.
Dari pertanyaan Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman dan istiqamah memiliki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Dua hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman merupakan pondasi keislaman seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat/ 41 : 30).
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”


Hakekat Istiqamah
Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk infinitif dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya dan substansinya, digambarkan sebagai berikut :
Abu Bakar al-Shiddiq.
Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, ‘istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.).
Umar bin Khatab.
Umar bin Khatab pernah mengatakan: Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang seperti menyimpangnya rubah.
Usman bin Affan.
Beliau mengatakan mengenai istiqamah, “Beristiqamahlah kalian yaitu ikhlaskanlah amal kalian hanya kepada Allah swt.
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istiqomah adalah implementasi dari nilai-nilai keimanan kepada Allah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Sehingga jika diimplemenatasikan dalam kehidupan dakwah kontemporer, seorang kader yang istiqomah, ia akan tetap konsisten menekuni jalan da’wah, apapun resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Seorang pejuang dakwah di parlemen yang istiqamah misalnya, akan senantiasa memperjuangkan ‘panji-panji’ dakwah, dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ragu dan bimbang serta tidak tergoda dengan segala godaan duniawi. Dan seorang al-akh yang istiqomah adalah al-akh yang ‘berani’ untuk tetap konsisten memperjuangkan ideologi dakwahnya yang benar, meskipun bertentangan dengan rekan-rekannya yang mungkin lebih senior, lebih struktural ataupun lebih ‘besar’ dalam pandangan manusia.
Manusia tetaplah manusia, kendatipun takwanya ia. Ia pasti pernah berbuat kekeliruan ataupun kesalahan. Oleh karenanya, untuk memperjelas masalah ini, dalam salah satu ayat-Nya di dalam Al-Qur’an, Allah swt menggandeng antara istiqamah dengan istighfar kepada Allah swt., yaitu sebagaimana yang terdapat dalam QS. Fushilat/ 41 : 6 :
“Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya).”
Ayat di atas menggambarkan, bahwa setiap insan pasti pernah melakukan satu kelalaian atau kesalahan, tanpa terkecuali siapapun dia. Oleh karenanya, seorang muslim yang baik adalah yang senantiasa introspeksi diri terhadap segala kekurangan dan kesalahan-kesalahannya, untuk kemudian berusaha memperbaikinya dengan terlebih dahulu beristighfar dan bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt.
Terlebih ketika mengarungi jalan dakwah yang penuh lubang dan duri, serta  jarak tempuh yang seolah bagaikan lautan tiada bertepi. Di sana banyak manusia-manusia yang beragam asal-usulnya, berbeda latar belakangnya.Tentulah hal ini memerlukan keistiqamahan dalam mengarunginya. Karena benturan, perbedaan ataupun kesilapan diantara sesama aktivis dakwah pasti terjadi. Mustahil jika manusia sebanyak itu tidak pernah saling salah paham. Sedangkan suami istri yang telah diikat dengan kalimatullah, hidup bersama siang dan malam, pagi dan sore, masih memiliki perbedaan-perbedaan yang
sulit dihindarkan. Apatah lagi, bagi sebuah kelompok besar yang masing-masing memiliki interest tersendiri. Namun yang lebih penting adalah, pasca kesalahan tersebut, apa yang ia perbuat kemudian?
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, Dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Buah Istiqamah
Istiqamah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :
1.            Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)
2.            Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan ta’yiid/ pertolongan dan dukungan dari para malaikat.
3.            Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.
Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)

Cara untuk Merealisasikan Istiqamah
1.            Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Diantara tanda-tanda ikhlas adalah: fokus untuk menggapai ridha Allah dan kesabaran dalam menempuh suatu proses yang panjang.
2.            Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan.
3.            Diperlukan adanya kesabaran.
4.            Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
5.            Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.
6.            Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut.
7.            Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.
8.            Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.
9.            Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah terwujud.

Ibarat orang yang lari maraton 10 km, maka ia tidak boleh berlari sprint pada 100 m awal, kemudian setelah itu ia kelelahan. Perlu di ingat bahwa ada ataupun tiadanya kita, dakwah akan tetap berjalan, so keep spirit to fight straight away!


Jumat, 25 Maret 2011

UMUR KEHIDUPAN


di awali dari perpindahan ruang pribadi alias rolling kamar. di awal memang terasa ketika kuliah sembari bekerja waktu terasa sempit. ketika kesempatan untuk hidup d kampus lebih bebas terasa bahwa saya seolah-olah menyi-nyiakan waktu dan penyesalan terjadi di akhir mulai terasa. 
Kamar baru, sahabat baru, berharap mendapat motivasi yg lebih untuk menghargai waktu. namun ini bentuk tarbiyah Alloh SWT agar saya mampu belajar dan berfikir, sehingga saya sadari teman baru saya sering sekali menghabiskan waktu luang untuk tidur n aktifitas lain yg menurut saya kurang produktif. 
Ttergelitik sekaligus ingin memotivasi diri bahwa saya harus bisa menghargai waktu yang ada, hatta saya mulai mencari referensi agar mata saya melek dan mampu berupaya untuk bisa menghargai waktu lebih baik. 
semoga bermanfaat....

Al-Waqtu Huwa al-Hayâh (waktu adalah kehidupan)
Sudah terlalu dekat dan melekat sampai kita lupa akan hakikatnya. Tiga suku kata yang sangat mendalam maknanya dalam samudera kehidupan yang luas dan kompleks, yang terdiri dari ‘(tiga) suku kata arab, namun sangat representative untuk menggambarkan arti pentingnya waktu bagi kehidupan manusia, yaitu ungkapan 'al-waqtu huwa al-hayâh (waktu adalah kehidupan)’. Sekali lagi, yaitu 'waktu adalah kehidupan.'
Kehidupan sebagai waktu yang dilalui manusia dimulai ia dilahirkan hingga ia wafat. Dengan definisi kehidupan seperti di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, seseorang yang membiarkan waktunya berlalu sia-sia, dan lenyap begitu saja, sama artinya ia dengan sengaja atau tidak sengaja telah melenyapkan sisa-sisa masa kehidupannya. Al-Hasan al-Bashri berkata,
“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan hari-hari”,
maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
Cobalah sekarang ingat kembali berapa lama waktu yang anda habiskan untuk sekedar istirahat, bercerita, tertawa, tidur atau hal-hal yang terasa indah baik untuk pribadi atau halayak ramai, sehari anda pasti habiskan untuknya bisa mencapai 5 jam setiap harinya. Bayangkan seandainya anda hidup hanya sekitar 60 tahun, maka 5 jam itu akan menghabiskan hampir seperempat masa kita di dunia. Luar biasa ternyata kita menghabiskan waktu hidup kita sekitar 20 tahunan untuk aktivitas yang belum pasti nilainya. Sekali bahwa ketika kita menyia-nyiakan dan membuang waktu kita tanpa hal yang berarti untuk agama dan kemaslahatan umat, maka ketika itu juga sesungguhnya kita telah membunuh diri kita sendiri. Betapa waktu itu sangat berharga dan jangan biarkan ia berlalu begitu saja.
Allah Subhanahu wa Ta'ala Bersumpah dengan Waktu dan Bagiannya
Karena sangat pentingnya Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah terkait waktu dalam beberapa surat:
“Demi waktu fajar, Demi waktu Dhuha, Demi Malam, Demi Siang, Demi Waktu”
Kenapa Allah bersumpah hanya dengan kalimat yang pendek-pendek, yang tak jahr maksudnya??? Itulah kaitannya dengan ayat pertama yang Allah turunkan. Manusia disuruh untuk terus berfikir sehingga bisa meraih apa arti sebenarnya yang Allah sembunyikan, karena dari yang tersembunyi itulah insan berfikir dapat semakin dekat dengan sang Khalik. Seperti Ulil Albab di dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. ": Al Imran :190).
 (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. ": Al Imran :191 )
Berbisnis Amal Dengan Allah SWT
Sejauh mana kita melangkah dan berbuat di masa-masa sebelum ini? Maka sudah selazimnya menjadi kewajiban bagi seorang muslim terhadap dirinya untuk melakukan muhâsabah an-nafsi 'intropeksi diri', yaitu menghitung-hitung dirinya atas tahun dan hari-hari yang telah ia lalui, seberapa besar nilai yang kita berikan, seberapa indah senyuman yang ditunggingkan orang-orang yang menyertai kita, seberapa dalam kesedihan yang mungkin kita goreskan atas orang lain, atau bahkan makhluk bernyawa dan tak bernyawa yang tidak kita penuhi hak-haknya.
Seperti apa yang dilakukan oleh seorang bisnisman yang menginginkan kesuksesan dengan modalnya pada setiap tahunnya, ia menghitung-hitung kembali perdagangannya, berapa modal yang telah ia keluarkan, berapa pemasukannya, di mana ia mengalami kerugian dan apa masalahnya, dan di mana keuntungannya, berapa besar keuntungannya dari pada kerugiannya, ketika kerugiannya lebih besar dari pada keuntungannya maka ia menjadi sangat menyesal sekali dan mengalami kesedihan yang luar biasa, dan sebaiknya ketika keuntungannya lebih besar dari pada kerugiannya maka ia merasa senang dan bergembira sekali, untuk selanjutnya ia melakukan kalkulasi bisnisnya kembali, mengatur dan membuat jadwal untuk tahun berikutnya.
Yang demikian itu dalam urusan duniawi, begitu ihtimaam (perhatiannya)dan sangat telitinya ia dalam urusan dunia ini. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan anda tidak akan dianiaya sedikitpun.”(QS.An-Nisaa:77)
Nabi Musa berkata di dalam al-Qur`an :                                        
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan
sementara, sesungguhnya akhirat itulah kesenangan yang kekal.” (QS.Al Maun : 39)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
Karena itu muhasabatunnafsi merupakan suatu keharusan, seandainya tidak sanggup setiap hari untuk instropeksi/menghitungkan dirinya hendaklah dilakukan pada setiap pekan, maka kalaupun setiap pekan ia masih juga tak dapat melakukannya, maka hendaklah setiap bulan, dan kalau tidak bisa juga maka hendaklah ia melakukan instropeksi diri pada setiap tahun.
Padahal dapat kita lihat salah seorang sahabat yang dijamin mendapatkan syurga, padahal dia tidak bergelut dengan pedang, tidak berceramah di atas mimbar dll, hanya karena muhasabah setiap malam menjelang tidur, ketelatenannya dalam memohon ampun dan memaafkan dengan ikhlas segala kesalahan saudaranya sepanjang hari, mampu membawanya dalam rahmat Allah SWT, bagaimana dengan kita?? Boro-boro memaafkan kesalahan orang lain, kesalahan sendiripun dianggap biasa dan lalai serta mengulanginya untuk kesekian kalinya, naudzubillah sungguh seandainya seperti itu, kita berada dalam golongan orang yang merugi.
Belajar Dari Manusia Yang Allah Cintai
Para salafus soleh meninggalkan banyak pelajaran berharga dalam menghargai waktu. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, sepanjang hidupnya tercatat telah mengumpulkan 358 ribu halaman dari berbagai karangannya. Jika kita perkirakan masa kanak-kanak beliau sebelum baligh 14 tahun, maka dapat disimpulkan beliau menulis 14 halaman setiap harinya. Begitu perhatiannya beliau dengan waktu, sampai-sampai ketika kurang lebih sejam sebelum kematiannya beliau masih menyempatkan diri menulis suatu do`a yang baru ia dengar dari Ja`far bin Muhammad. Begitu pula dengan Imam Ibnu al-Qayyim yang tidak rela kehilangan waktunya karena safar (suatu perjalanan), sehingga selama safarnya beliau mengisinya dengan menulis sehingga menghasilkan karya Zaadul Ma`aad. Imam Nawawi yang tidur dengan bersandarkan sebuah buku yang ditegakkan pada dagunya, begitu buku itu terjatuh maka beliau terjaga dan kembali menggoreskan tintanya. Majduddin Abu al-Barakat `Abdussalam, kakek dari Imam Ibnu Taimiyah, tiap kali masuk ke kakus, beliau memerintahkan anaknya (orang tua Imam Ibnu Taimiyah) untuk membacakan suatu kitab dengan suara keras, hingga terdengar olehnya. Tak aneh jika sikap sang kakek ini tertular kepada cucunya. Suatu ketika Imam Ibnu Taimiyah jatuh sakit, dokter menyarankan agar beliau untuk sementara waktu menghentikan dulu kegiatan belajar mengajarnya karena hal itu dikhawatirkan dapat memperparah kondisinya. Berkata Imam Ibnu Taimiyah kepada dokternya, "bukankah jika jiwa yang bahagia dan gembira dapat memperkuat daya tahan tubuh", sang dokter membenarkannya. "Maka sesungguhnya jiwaku merasa tenang jika berinteraksi dengan ilmu, dan tubuhku terasa kuat dan hanya dengan itu saya dapat beristirahat."
            Maha suci Allah, mengingat kisah khalifah pertama Abubakar Ra, yang memiliki kesempurnaan iman, disaksikan sendiri oleh rasulullah Saw dalam sabdanya:
“Jika ditimbang keimanan Abubakar dengan keimanan seluruh umat akan lebih berat keimana Abubakar.”(HR. Al Baihaqi dalam Asysyiib)
Tak lain adalah karena keuletannya dalam menghabiskan waktunya untuk bersama dengan Muhammad Saw sang penggenggam hujan, sehingga Abubakar memiliki karakter yang tak jauh beda dengan sang Rasul. Bahkan ketika Umar Ra dengan keyakinan mampu mengejar Abubakar untuk segera beramal di awal hari, ternyata Abubakar sudah berada barisan terdepan.
Optimalkan Amal
Umur manusia merupakan rahasia Allah Subhanahu wa Ta'ala Kualitas umur seseorang sangat menentukan posisinya di alam kehidupan berikutnya. Jika dari waktunya diperuntukkan hanya karena Allah (lillah) maka kematiannya adalah baik baginya. Namun sebaliknya jika waktu dan umurnya dihabiskan untuk menuruti kesenangan nafsu dan dan ambisi syahwat hewaninya maka kematiannya merupakan petaka besar baginya. Al-Hasan al-Bashri berkata,
“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan harihari”,
maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
Ibnu Mas`ud Radhiyallahu 'Anhu (salah seorang sahabat besar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam) berkata:
"Tidak ada yang lebih aku sesali, kecuali bila matahari telah terbenam maka
berkuranglah masa ajalku, namun tidak bertambah sedikitpun amalanku."
Berkata Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah,
"Sesungguhnya malam dan siang terus bekerja dalam dirimu, maka bekarjalah
 di dalam siang dan malammu."
Bekerjalah pada siang dan malammu, janganlah mengakhirkan pekerjaan siang untuk dikerjakan di malam harinya, dan janganlah mengakhirkan pekerjaan malam ke siang harinya. Janganlah pekerjaan hari ini di akhirkankan hingga esok harinya dan janganlah pekerjaan esok karena malas diakhirkan hingga lusanya. Jangan katakan, "Nanti akan kuamalkan, sebentar lagi akan kukerjakan." Karena setiap manusia akan ditanya pada hari kiamat, mengenai umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang ilmunya sudahkah ia amalkan, dan tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia belanjakan ?. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam:
Tidak akan bergeser kedua kaki manusia pada hari Kimat hingga (ia) ditanya
tentang:
(HR. At-Tirmidzi)
Dan sebuah penegasan yang amat jelas tentang hakikatnya hidup manusia dalam penghabisan masa jabatannya di dunia, yakni dalam Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr : 1-3)
Sungguh terbukti kebenaran ucapan Imam Syafi`i mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
Bahwa seandainya (al-Qur`an) tidak diturunkan kecuali (hanya) surat (al-Ashr) ini, maka hal itu sudah cukup memadai bagi manusia sekalian. Nikamtilah kehidupan kita seolah akan hidup selamanya dan terus beramal, dan lakukan amalan itu dengan lurus sehingga terasa hidup selamanya di dunia dengan keberkahan dari sang pencipta sehingga rahmat yang dinantipun terbukakan. Dan tak lain segala aktivitas kembali hanya untuk Allah SWT semata dan hanya akan kembali padaNya, sebagaimana firmanNya berikut:
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji-pujian; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Surah At-Taghaabuun:1)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik, hidayah dan keberkahan-Nya dalam hidup dan umur kita. Amiin.

Kamis, 03 Februari 2011

dia itu polos

belajar dari penglihatan selama mengajar anak-anak TPQ, hmmmm...
smoga postingan yg ta  edit dr fb bisa memberi sebuah sindiran untuk kita yang merasa dewasa untuk bisa berpikir lugas dan jujur..


semakin dewasa ternyata orang semakin banyak menerima pelajaran tentang berbohong...
baru nyadar bahwa aku semakin sering melakukan kebohongan, ntah itu untuk kebaikan atau bahkan keburukan... 

aku sadar setelah sringnya interaksi dengan anak2 yang subhanalloh,, luar biasa mereka sulit berbihong...
mereka juujur dengan apa yang ada, apa yang dia punya, apa yang dia ingin, apa yg dia rasa, dan segalanya ntah apapun yang terjadi mereka selalu berusaha JUJUR...
lantas bagaimanakh dengan kirta yang dewasa?? ato yang udah berusia di atas usia remaja??
banyak faktor yang menyebabkan itu bisa terjadi,, 

di mulai dari keluarga lingungan, makanan, dan tuntunan serta tontonan yang kadang menyebabkan kita berumur dewasa tapi akal dan nurani kita kalah dengan anak-anak di bawah umur...

disini yang aku sorotin adalah sahabat, bagaimana dialah orang terdekat setelah orang rumah kita..dialah yang menemani aktifitas kita seharian dan bisa dibilang dialah yang akan mengenalkan kita pada calon pendamping hidup kita...
makanya mulai dari sekarang boleh bergaul asal ga bercampur.. sebagaimana kata syekh Hasan Al-Banna bahwa "jadilah kita sebelum orang lain"...

kita diharapkan mempunyai pegangan kuat sebelum kita berafiliasi dengan yang lain...
jadi berpegangtegulah pada tali Alloh dan bergabunglah dengan mereka yang paham akan agama dan mampu mengaplikasikannya, serta bergaulah dengan siapa saja karena siapa tau itulah amalan yang mendekatkan kita ke syurgaNya...
banyak-banyaklah belajar dan berlakulah jujur,,

jangan terus2an bermain di panggung sandiwara...