hari-hari merasakan betapa tidak produktif, ibadah terasa hambar, aktivitaspun tak selezat biasanya...
itulah awalnya,,banyak kejadian yang ku rasa mendidikku menjadi seseorang yang tak peduli, tak mau tahu...
tempat yang pertama kali aku merasakan betapa indahnya ukhuwah, betapa besar pengorbanan yang memang mesti kita berikan, betapa besar kelapangan yang harus diberikan sebagai seorang sahabat, adik dan sekarang aku menjadi seorang kakak bahkan sebagai seorang yang paling tua dan semoga bisa dituakan...
disinilah aku memulai mengenal hidup, bahwa relatifitas n sensitifitas sangat dekat dengan kehidupan manusia...
tempat mengenal kesahajaan hidup "wisma". hampir 5 tahun d wsma, baru merasakan bahkan mungkin t'sadar berkedudukan sebagai orang yg d tuakan n memang saatnya di tuntut dewasa...
d usia yang hampir menginjak usia 23, jadi semangat untuk saya belajar lebih dewasa, belajar lebih halus, lembut, belajar memperhatikna n belajar mendidik dengan pembelajaran yang baik, tak lain dan tak salah adalah karena saya harus mampu mempersiapkan diri untuk menjalani tugas pasca kampus, yakni berkedudukan sebagai"wanita dewasa atau bahkan sebagai ibu dan pembimbing dalam rumah tangga"
mendengar forwad message tadi pagi, awalnya biasa, namun ingat dengan proses yang sedang berjalan, mengingatkan saya, apakah saya bisa sebagik atau lebih jauh baik dari beliau?? hmmm, belum smpt saya dberi wktu brtemu, bliau ibu dari 13 anak yang insyaAlloh shalih n shalihah Ustdh.Yoyoh Yusroh syahid dalam perjalanan pulang pasca ikut serta dalam wisuda putri beliau di UGM.
belajar dari almarhumah yang luar biasa bagaimana mendidik ke-13 anaknya dengan baik, ketika dia merasa bahwa jumlah anak yang cukup banyak merupakan anugerah Allah SWT dan bukan membuatnya repot melainkan banyak terbantu. itulah kesuksesan beliau dimana bukannya keteteran namun dengan penanaman kemandirian sejak dini, mampu menanamkan rasa hormat dan menghargai pada setiap putra-putrinya...
banyak hal indah yang tak dapat saya ungkapkan karena jujur bagi saya, walaupun belum pernah bertemu langsung, saya sangat yakin karena kekuatan keinginan yang baik serta do'a, beliau n suami mampu membimbing putra-ptrinya dengan baik bahkan putra beliau yg berumur 15th pun sudah menghafal Al-Quran. luar biasa untuk dibayangkan dalam kondisi kehidupan saat ini...
dari kabar duka hari ini saya banyak belajar tentang arti hidup. begitupun dengan kehidupan yang sedang saya jalani, rasanya ingin sekali saya jujur ttg hal ini pada semua akhwat n wanita di dunia ini. sebuah refleksi dan sebuah teguran untuk semua akhwat n wanita di dunia ini, apalagi bagi mereka yang mengaku "aktivis", tanyakan pada diri sendiri, apakah kita sudah berusaha mencoba menyayangi diri kita sendiri dengan menyayangi orang lain? di zaman saat ini, mungkin mudah untuk menghitung dengan jari berapa banyak wanita yg belajar mencintai diri pribadi dengan mencintai orang lain..
saat ini mereka cenderung dengan kesenangan mereka sendiri, tak peduli dengan orang lain bahkan kepentingan bersama.miris banget rasanya dengan kondisi kuantitas yang menurun(saya rasa) apakah kualitasnyapun juga tidak bisa di jaga? luar biasa, sungguh koreksi yg sangat mendalam.
lingkungan memang sangat berpengaruh, terutama teman atau tetangga bermain bersama. saya merasa sukar sekali untuk mendekati, memang basic saya adalah mediasi alias syiar.. sya mencoba keluar dari problematik diri dan konsen dengan sekitar, namun sukar sekali rasanya untuk mulai mengenal sistem kaderisasi yang baik untuk mencetak generasi penerus yang lebih baik.
ibarat jual-beli, ada saler ada buyer..begitu juga dg dakwah, ada da'i ada objek da'i, jadi tidak hanya da'i yang hadal yang diturunkan untuk memberantas segala penyakit yang menjangkit sebuah lingkungan, namun sangat dibutuhkan adalah moralitas yang baik dan tinggi. itulah KESADARAN diri. yang lahir dari rasa PEDULI dan TANGGUNG JAWAB atas segala perilakunya...
maka dari itu walaupun saya pernah mendapat masukan dari ibu saya yang berkata, "kalau kayak gitu, ya kamu kan yang gede, ya ngalah. mang kudune wong tuo tu ngalah karo sing enom"...
beda konteks dengan perkataan ibuku, bahwasanya lingkungan keluarga memang tempat untuk berbagi segala sesuatu dengan porsi yang lebih karena merekalah yang pantas untuk tahu segalanya tentang kita. namun dalam segi pembelajaran bersama semestinya kita mampu merubah mindset 'diperhatikan' menjadi 'belajar mengerti dan memahami' karena hidup hanya sekali, dan sedikit waktu ternyata lebih mudah mengumpulkan musuh dibanding kawan karib yang mungkin saja bisa ditempuh dengan waktu yang panjang.
jadi jangalah merasa puas dengan apa yang kita berikan, namun berusahalah untuk istiqomah berbuat baik karena belum tentu apa yang dianggap baik menghasilkan yang baik. belajar untuk dewasa tidak perlu menunggu cukup umur, namun hal itu harus bisa ditanamkan dengan kemandirian yang dilakukan sejak dini di lingkungan keluarga, sehingga ketika kita berkumpul dengan kompleksnya masyarakat, kita mampu untuk memberi warna-warna indah islam dan harum ketiggian islam yang menyegarkan sehingga mampu merubah dan membangun masyarakat tanpa adanya pemaksaan yang berarti atau tanpa disadarkanpun kita mampu untuk berbagi..
elemen terkecil adalah keluarga dan majunya keluarga adalah karena tegar dan kokohnya sang ibu pelipur lara..
mari berjuang menjadi IBU teladan sepanjang masa...
itulah awalnya,,banyak kejadian yang ku rasa mendidikku menjadi seseorang yang tak peduli, tak mau tahu...
tempat yang pertama kali aku merasakan betapa indahnya ukhuwah, betapa besar pengorbanan yang memang mesti kita berikan, betapa besar kelapangan yang harus diberikan sebagai seorang sahabat, adik dan sekarang aku menjadi seorang kakak bahkan sebagai seorang yang paling tua dan semoga bisa dituakan...
disinilah aku memulai mengenal hidup, bahwa relatifitas n sensitifitas sangat dekat dengan kehidupan manusia...
tempat mengenal kesahajaan hidup "wisma". hampir 5 tahun d wsma, baru merasakan bahkan mungkin t'sadar berkedudukan sebagai orang yg d tuakan n memang saatnya di tuntut dewasa...
d usia yang hampir menginjak usia 23, jadi semangat untuk saya belajar lebih dewasa, belajar lebih halus, lembut, belajar memperhatikna n belajar mendidik dengan pembelajaran yang baik, tak lain dan tak salah adalah karena saya harus mampu mempersiapkan diri untuk menjalani tugas pasca kampus, yakni berkedudukan sebagai"wanita dewasa atau bahkan sebagai ibu dan pembimbing dalam rumah tangga"
mendengar forwad message tadi pagi, awalnya biasa, namun ingat dengan proses yang sedang berjalan, mengingatkan saya, apakah saya bisa sebagik atau lebih jauh baik dari beliau?? hmmm, belum smpt saya dberi wktu brtemu, bliau ibu dari 13 anak yang insyaAlloh shalih n shalihah Ustdh.Yoyoh Yusroh syahid dalam perjalanan pulang pasca ikut serta dalam wisuda putri beliau di UGM.
belajar dari almarhumah yang luar biasa bagaimana mendidik ke-13 anaknya dengan baik, ketika dia merasa bahwa jumlah anak yang cukup banyak merupakan anugerah Allah SWT dan bukan membuatnya repot melainkan banyak terbantu. itulah kesuksesan beliau dimana bukannya keteteran namun dengan penanaman kemandirian sejak dini, mampu menanamkan rasa hormat dan menghargai pada setiap putra-putrinya...
banyak hal indah yang tak dapat saya ungkapkan karena jujur bagi saya, walaupun belum pernah bertemu langsung, saya sangat yakin karena kekuatan keinginan yang baik serta do'a, beliau n suami mampu membimbing putra-ptrinya dengan baik bahkan putra beliau yg berumur 15th pun sudah menghafal Al-Quran. luar biasa untuk dibayangkan dalam kondisi kehidupan saat ini...
dari kabar duka hari ini saya banyak belajar tentang arti hidup. begitupun dengan kehidupan yang sedang saya jalani, rasanya ingin sekali saya jujur ttg hal ini pada semua akhwat n wanita di dunia ini. sebuah refleksi dan sebuah teguran untuk semua akhwat n wanita di dunia ini, apalagi bagi mereka yang mengaku "aktivis", tanyakan pada diri sendiri, apakah kita sudah berusaha mencoba menyayangi diri kita sendiri dengan menyayangi orang lain? di zaman saat ini, mungkin mudah untuk menghitung dengan jari berapa banyak wanita yg belajar mencintai diri pribadi dengan mencintai orang lain..
saat ini mereka cenderung dengan kesenangan mereka sendiri, tak peduli dengan orang lain bahkan kepentingan bersama.miris banget rasanya dengan kondisi kuantitas yang menurun(saya rasa) apakah kualitasnyapun juga tidak bisa di jaga? luar biasa, sungguh koreksi yg sangat mendalam.
lingkungan memang sangat berpengaruh, terutama teman atau tetangga bermain bersama. saya merasa sukar sekali untuk mendekati, memang basic saya adalah mediasi alias syiar.. sya mencoba keluar dari problematik diri dan konsen dengan sekitar, namun sukar sekali rasanya untuk mulai mengenal sistem kaderisasi yang baik untuk mencetak generasi penerus yang lebih baik.
ibarat jual-beli, ada saler ada buyer..begitu juga dg dakwah, ada da'i ada objek da'i, jadi tidak hanya da'i yang hadal yang diturunkan untuk memberantas segala penyakit yang menjangkit sebuah lingkungan, namun sangat dibutuhkan adalah moralitas yang baik dan tinggi. itulah KESADARAN diri. yang lahir dari rasa PEDULI dan TANGGUNG JAWAB atas segala perilakunya...
maka dari itu walaupun saya pernah mendapat masukan dari ibu saya yang berkata, "kalau kayak gitu, ya kamu kan yang gede, ya ngalah. mang kudune wong tuo tu ngalah karo sing enom"...
beda konteks dengan perkataan ibuku, bahwasanya lingkungan keluarga memang tempat untuk berbagi segala sesuatu dengan porsi yang lebih karena merekalah yang pantas untuk tahu segalanya tentang kita. namun dalam segi pembelajaran bersama semestinya kita mampu merubah mindset 'diperhatikan' menjadi 'belajar mengerti dan memahami' karena hidup hanya sekali, dan sedikit waktu ternyata lebih mudah mengumpulkan musuh dibanding kawan karib yang mungkin saja bisa ditempuh dengan waktu yang panjang.
jadi jangalah merasa puas dengan apa yang kita berikan, namun berusahalah untuk istiqomah berbuat baik karena belum tentu apa yang dianggap baik menghasilkan yang baik. belajar untuk dewasa tidak perlu menunggu cukup umur, namun hal itu harus bisa ditanamkan dengan kemandirian yang dilakukan sejak dini di lingkungan keluarga, sehingga ketika kita berkumpul dengan kompleksnya masyarakat, kita mampu untuk memberi warna-warna indah islam dan harum ketiggian islam yang menyegarkan sehingga mampu merubah dan membangun masyarakat tanpa adanya pemaksaan yang berarti atau tanpa disadarkanpun kita mampu untuk berbagi..
elemen terkecil adalah keluarga dan majunya keluarga adalah karena tegar dan kokohnya sang ibu pelipur lara..
mari berjuang menjadi IBU teladan sepanjang masa...