Selasa, 12 Maret 2013

Karena Wanita selalu indah...

         Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kita di ciptakan tanpa sia dan penuh dengan makna. Dimana Allah dengan kesempurnaan-Nya telah menganugerahkan berlipat nikmat kepada kita semua dari ujung rambut hingga dasar telapak kaki.

Dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin (QS.Luqman :20)

         Mengambil sedikit kutipan cerpen bang Tere Liye dalam judul Berjuta Rasa, di chapter pertama diceritakan tentang bagaimana jika semua wanita cantik? Hal objektif akan mengatakan semua wanita cantik, namun beda ceritanya jika yang bercerita adalah hal subjektif. Cantik atau indahnya makhluk Tuhan tak lepas dari apa yang ada di hatinya dan ketahuilah bahwasanya yang tidak terlihatlah atau yang abstraklah yang lebih kekal. Coba bayangkan ketika seorang lelaki memilih pasangannya hanya sekedar wanita itu indah di lihat secara lahir, yang namanya bentuk lahir tak ada yang abadi dan mungkin berubah ke dalam bentuk yang jauh dari kondisi awal. Maka seiring berjalan waktu keindahan lahir seseorang akan pudar dan hilang megikuti gerusan usia yang tak terelakan. Wanita yang dulunya cantik ketika bertambah umur, kecantikan atau keindahan fisiknya akan hilang, dan apakah gara2 gerusan usia ini sang lelaki meninggalkan kekasih tersayangnya tersebut? bisa jadi dan bahkan banyak terjadi di dunia kita saat ini.
          Allah memang mencintai keindahan, tetapi indah disini lebih ke dalam bentuk yang kekal tidak instan dimana indah karena seseorang itu memiliki keistimewaan yang tiada dua dan tiada tergerus usia yang berlari mengejar waktu kontrak manusia hidup di dunia, dan keindahan abadi ada pada hal hati dan akal manusia itu sendiri yang jelas membedakannya dengan makhluk lainnya sebagai makhluk yang paling sempurna.
           Dalam catatan ini saya ingin berbagi cerita mengenai wanita sebagai makhluk Tuhan yang istimewa karena katanya'dari sudut pandang manapun, wanita memiliki nilai artistik tersendiri'. Dimanapun tak akan terasa manis kalo ga ada wanita (kata salah satu official finance di Sea Games ke-26). Ada juga yang mengatakan wanita itu makhluk yang lemah tapi lembut dan karenanyalah wanita memiliki nilai khas yang memang berfungsi sebagai pewarna segala suasana.
     
    Itu baru pandangan manusia biasa, tahukah anda tidak hanya pria yang kagum pada sosok wanita, Allah pun terkagum dengan sosok ciptaan-Nya ini. Banyak hal yang membuat wanita mempesona tidak lain karena kemulaian yang dimiliknya, dimana seorang lelaki besarpun tak lain karena di belakangnya ada benteng seorang wanita yang kuat dan tangguh membersamainya.
          Allah memuliakan sosok wanita dan di Al-Quran pun bisa kita dapati beberapa ayat yang menerangkan mengenai kisah-kisah wanita sholihah dan mulai, seperti ketaqwaan Maryam yang di abadikan namanya dalam QS.Maryam. Seruan Allah kepada setiap wanita untuk berjilbab dalam QS.Al-Ahzab :59 dengan tujuan agar wanita muslimah lebih mudah dikenal, dan terhindar dari gangguan.
          Jelas sekali bukti cinta Allah terhadap wanita dalam QS.33 :59 di atas, tak lain karena Allah maha Pengampun dan maha Penyayang, namun para musuh islam berupaya mengaitkan seruan kasih Allah dengan pengekangan dan mereka membungkus seruan kebebasan atau emansipasi dengan nilai-nilai islam yang tampak sempurna. banyak konspirasi yang dimunculkan melalui argumen-argumen pembebasan kaum hawa dari pengekangan syariat islam dengan mengajak kaum hawa aktif turun ke jalan selayaknya para shahabiyah yang turun ke medan ke medan perang padahal pada zaman kegemilangan itu, hal pertama bahwa kepergian wanita ke medan perang bukan sebuah faktor penting, dan mereka pergi atas nama pribadi dan bukan atas nama kelompok. kedua para wanita itu tidak ikut serta keluar medan jihad kecuali dengan izin Rasulullah dan atas desakan dari mereka sendiri. Ketiga keperanan wanita di medan perang disesuaikan dgn kodrat kewanitaannya. Mereka tidak ikut latihan berkuda sebagaimana yg dilakukan kaum lelaki juga tidak bersenjatakan pedang atau perisai. Kecuali krn situasi yg sangat mendesak dan gawat seperti yg dilakukan oleh Nusaibah binti Ka’b yg membela Rasulullah dgn pedangnya pada perang Uhud juga sahabat wanita yg lain seperti Rumaisha’ yg dgn golok merobek perut tiap kaum musyrikin yg melewatinya. Keempat dan ini yg terpenting para wanita yg pergi ke medan jihad tidak berangkat kecuali dgn mahram yg senantiasa menyertainya.
            Dari sini jelaslah bahwa para wanita Islam-sesuai fakta sejarah- tidak ikut serta membentuk pasukan militer seperti yg dilakukan kaum lelaki di medan jihad. Dan secara hukum mereka tidak diwajibkan memenuhi panggilan jihad sebagaimana kaum lelaki. Dan kalau misalnya ikut serta maka keperanannya di medan jihad adl sebatas kodrat kewanitaannya. Hal ini berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyah
Aku ikut berperang bersama Nabi sebanyak tujuh kali aku menggantikan mereka dalam menjaga perbekalan aku buatkaan mereka makanan aku obati mereka yg terluka dan aku menjaga mereka yg sakit.
           Membuat makanan mengobati orang terluka dan menjaga orang sakit adl pekerjaan yg memang sesuai dgn kodrat wanita. Di masyarakat manapun memang itulah peranan yg seyogyanya di perankan oleh wanita. Dan perlu digarisbawahi keikutsertaan wanita dalam melakukan hal-hal di atas dalam suasana perang- hanyalah sunnah tidak wajib.
          Dia adalah kitab kehidupan, baca dan pahamilah hatinya. Bacalah diamnya, bacalah bicaranya, bacalah wajahnay, bacalah sorot matanya, bacalah bibirnya. Dalami dan renungkan sosok wanita. karena darinyalah kita mengerti makna cinta, makna kesetiaan, makna pengorbanan, makna keindahan yang sesungguhnya. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar