Selasa, 12 Maret 2013

Karena Wanita selalu indah...

         Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kita di ciptakan tanpa sia dan penuh dengan makna. Dimana Allah dengan kesempurnaan-Nya telah menganugerahkan berlipat nikmat kepada kita semua dari ujung rambut hingga dasar telapak kaki.

Dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin (QS.Luqman :20)

         Mengambil sedikit kutipan cerpen bang Tere Liye dalam judul Berjuta Rasa, di chapter pertama diceritakan tentang bagaimana jika semua wanita cantik? Hal objektif akan mengatakan semua wanita cantik, namun beda ceritanya jika yang bercerita adalah hal subjektif. Cantik atau indahnya makhluk Tuhan tak lepas dari apa yang ada di hatinya dan ketahuilah bahwasanya yang tidak terlihatlah atau yang abstraklah yang lebih kekal. Coba bayangkan ketika seorang lelaki memilih pasangannya hanya sekedar wanita itu indah di lihat secara lahir, yang namanya bentuk lahir tak ada yang abadi dan mungkin berubah ke dalam bentuk yang jauh dari kondisi awal. Maka seiring berjalan waktu keindahan lahir seseorang akan pudar dan hilang megikuti gerusan usia yang tak terelakan. Wanita yang dulunya cantik ketika bertambah umur, kecantikan atau keindahan fisiknya akan hilang, dan apakah gara2 gerusan usia ini sang lelaki meninggalkan kekasih tersayangnya tersebut? bisa jadi dan bahkan banyak terjadi di dunia kita saat ini.
          Allah memang mencintai keindahan, tetapi indah disini lebih ke dalam bentuk yang kekal tidak instan dimana indah karena seseorang itu memiliki keistimewaan yang tiada dua dan tiada tergerus usia yang berlari mengejar waktu kontrak manusia hidup di dunia, dan keindahan abadi ada pada hal hati dan akal manusia itu sendiri yang jelas membedakannya dengan makhluk lainnya sebagai makhluk yang paling sempurna.
           Dalam catatan ini saya ingin berbagi cerita mengenai wanita sebagai makhluk Tuhan yang istimewa karena katanya'dari sudut pandang manapun, wanita memiliki nilai artistik tersendiri'. Dimanapun tak akan terasa manis kalo ga ada wanita (kata salah satu official finance di Sea Games ke-26). Ada juga yang mengatakan wanita itu makhluk yang lemah tapi lembut dan karenanyalah wanita memiliki nilai khas yang memang berfungsi sebagai pewarna segala suasana.
     
    Itu baru pandangan manusia biasa, tahukah anda tidak hanya pria yang kagum pada sosok wanita, Allah pun terkagum dengan sosok ciptaan-Nya ini. Banyak hal yang membuat wanita mempesona tidak lain karena kemulaian yang dimiliknya, dimana seorang lelaki besarpun tak lain karena di belakangnya ada benteng seorang wanita yang kuat dan tangguh membersamainya.
          Allah memuliakan sosok wanita dan di Al-Quran pun bisa kita dapati beberapa ayat yang menerangkan mengenai kisah-kisah wanita sholihah dan mulai, seperti ketaqwaan Maryam yang di abadikan namanya dalam QS.Maryam. Seruan Allah kepada setiap wanita untuk berjilbab dalam QS.Al-Ahzab :59 dengan tujuan agar wanita muslimah lebih mudah dikenal, dan terhindar dari gangguan.
          Jelas sekali bukti cinta Allah terhadap wanita dalam QS.33 :59 di atas, tak lain karena Allah maha Pengampun dan maha Penyayang, namun para musuh islam berupaya mengaitkan seruan kasih Allah dengan pengekangan dan mereka membungkus seruan kebebasan atau emansipasi dengan nilai-nilai islam yang tampak sempurna. banyak konspirasi yang dimunculkan melalui argumen-argumen pembebasan kaum hawa dari pengekangan syariat islam dengan mengajak kaum hawa aktif turun ke jalan selayaknya para shahabiyah yang turun ke medan ke medan perang padahal pada zaman kegemilangan itu, hal pertama bahwa kepergian wanita ke medan perang bukan sebuah faktor penting, dan mereka pergi atas nama pribadi dan bukan atas nama kelompok. kedua para wanita itu tidak ikut serta keluar medan jihad kecuali dengan izin Rasulullah dan atas desakan dari mereka sendiri. Ketiga keperanan wanita di medan perang disesuaikan dgn kodrat kewanitaannya. Mereka tidak ikut latihan berkuda sebagaimana yg dilakukan kaum lelaki juga tidak bersenjatakan pedang atau perisai. Kecuali krn situasi yg sangat mendesak dan gawat seperti yg dilakukan oleh Nusaibah binti Ka’b yg membela Rasulullah dgn pedangnya pada perang Uhud juga sahabat wanita yg lain seperti Rumaisha’ yg dgn golok merobek perut tiap kaum musyrikin yg melewatinya. Keempat dan ini yg terpenting para wanita yg pergi ke medan jihad tidak berangkat kecuali dgn mahram yg senantiasa menyertainya.
            Dari sini jelaslah bahwa para wanita Islam-sesuai fakta sejarah- tidak ikut serta membentuk pasukan militer seperti yg dilakukan kaum lelaki di medan jihad. Dan secara hukum mereka tidak diwajibkan memenuhi panggilan jihad sebagaimana kaum lelaki. Dan kalau misalnya ikut serta maka keperanannya di medan jihad adl sebatas kodrat kewanitaannya. Hal ini berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyah
Aku ikut berperang bersama Nabi sebanyak tujuh kali aku menggantikan mereka dalam menjaga perbekalan aku buatkaan mereka makanan aku obati mereka yg terluka dan aku menjaga mereka yg sakit.
           Membuat makanan mengobati orang terluka dan menjaga orang sakit adl pekerjaan yg memang sesuai dgn kodrat wanita. Di masyarakat manapun memang itulah peranan yg seyogyanya di perankan oleh wanita. Dan perlu digarisbawahi keikutsertaan wanita dalam melakukan hal-hal di atas dalam suasana perang- hanyalah sunnah tidak wajib.
          Dia adalah kitab kehidupan, baca dan pahamilah hatinya. Bacalah diamnya, bacalah bicaranya, bacalah wajahnay, bacalah sorot matanya, bacalah bibirnya. Dalami dan renungkan sosok wanita. karena darinyalah kita mengerti makna cinta, makna kesetiaan, makna pengorbanan, makna keindahan yang sesungguhnya. 




Rabu, 06 Maret 2013

istiqomah di jalan dakwah


ISTIQOMAH DI JALAN DAKWAH :

Dakwah yang merupakan salah satu sendi aktivitas kehidupan kita, semsetinya tidak untuk sekedar kita jalani melainkan kita nikmati. Proses ini bertujuan agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati untuk kita cintai. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.
Terkadang perjuangan dakwah ini begitu berat. Di tengah lingkungan yang sibuk dengan urusan duniawi dan masyarakat yang sekuler, tak jarang kita merasa begitu lelah dan sendirian. Ketika kawan-kawan seperjuangan satu persatu mundur teratur. Ditambah jika kita berjuang di negeri asing, di mana masyarakatnya tidak mengenal Islam dan materi menjadi Tuhan. Perasaan ini wajar, bahkan berkah dari Allah SWT agar kita selalu istiqomah dengan tujuan hidup ini dan nilai-nilai yang kita perjuangkan.
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Alloh dan rasul-Nya serta berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh memberikan keputusannya. dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (At-Taubah;24).
Yang harus diingat adalah apakah kita terjun dalam dakwah karena orang-orang yang sudah futur tadi atau karena Alloh? jika karena orang-orang tadi maka cepat atau lambat kita akan mengikuti jejak mereka. Namun jika karena Alloh maka seberat apapun beban dakwah yang didapat maka akan selalu teringat tujuan awal kita.
Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata: Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Dari hadist tersebut di atas, kandungan isi yang bisa kita ambil bahwa dua pokok permasalahan besar dalam Islam, yaitu Iman dan Istiqamah. Iman merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam kehidupan nyata.
Dari pertanyaan Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman dan istiqamah memiliki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Dua hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman merupakan pondasi keislaman seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat/ 41 : 30).
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”


Hakekat Istiqamah
Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk infinitif dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya dan substansinya, digambarkan sebagai berikut :
Abu Bakar al-Shiddiq.
Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, ‘istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.).
Umar bin Khatab.
Umar bin Khatab pernah mengatakan: Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang seperti menyimpangnya rubah.
Usman bin Affan.
Beliau mengatakan mengenai istiqamah, “Beristiqamahlah kalian yaitu ikhlaskanlah amal kalian hanya kepada Allah swt.
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istiqomah adalah implementasi dari nilai-nilai keimanan kepada Allah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Sehingga jika diimplemenatasikan dalam kehidupan dakwah kontemporer, seorang kader yang istiqomah, ia akan tetap konsisten menekuni jalan da’wah, apapun resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Seorang pejuang dakwah di parlemen yang istiqamah misalnya, akan senantiasa memperjuangkan ‘panji-panji’ dakwah, dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ragu dan bimbang serta tidak tergoda dengan segala godaan duniawi. Dan seorang al-akh yang istiqomah adalah al-akh yang ‘berani’ untuk tetap konsisten memperjuangkan ideologi dakwahnya yang benar, meskipun bertentangan dengan rekan-rekannya yang mungkin lebih senior, lebih struktural ataupun lebih ‘besar’ dalam pandangan manusia.
Manusia tetaplah manusia, kendatipun takwanya ia. Ia pasti pernah berbuat kekeliruan ataupun kesalahan. Oleh karenanya, untuk memperjelas masalah ini, dalam salah satu ayat-Nya di dalam Al-Qur’an, Allah swt menggandeng antara istiqamah dengan istighfar kepada Allah swt., yaitu sebagaimana yang terdapat dalam QS. Fushilat/ 41 : 6 :
“Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya).”
Ayat di atas menggambarkan, bahwa setiap insan pasti pernah melakukan satu kelalaian atau kesalahan, tanpa terkecuali siapapun dia. Oleh karenanya, seorang muslim yang baik adalah yang senantiasa introspeksi diri terhadap segala kekurangan dan kesalahan-kesalahannya, untuk kemudian berusaha memperbaikinya dengan terlebih dahulu beristighfar dan bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt.
Terlebih ketika mengarungi jalan dakwah yang penuh lubang dan duri, serta  jarak tempuh yang seolah bagaikan lautan tiada bertepi. Di sana banyak manusia-manusia yang beragam asal-usulnya, berbeda latar belakangnya.Tentulah hal ini memerlukan keistiqamahan dalam mengarunginya. Karena benturan, perbedaan ataupun kesilapan diantara sesama aktivis dakwah pasti terjadi. Mustahil jika manusia sebanyak itu tidak pernah saling salah paham. Sedangkan suami istri yang telah diikat dengan kalimatullah, hidup bersama siang dan malam, pagi dan sore, masih memiliki perbedaan-perbedaan yang
sulit dihindarkan. Apatah lagi, bagi sebuah kelompok besar yang masing-masing memiliki interest tersendiri. Namun yang lebih penting adalah, pasca kesalahan tersebut, apa yang ia perbuat kemudian?
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, Dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Buah Istiqamah
Istiqamah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :
1.            Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)
2.            Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan ta’yiid/ pertolongan dan dukungan dari para malaikat.
3.            Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.
Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)

Cara untuk Merealisasikan Istiqamah
1.            Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Diantara tanda-tanda ikhlas adalah: fokus untuk menggapai ridha Allah dan kesabaran dalam menempuh suatu proses yang panjang.
2.            Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan.
3.            Diperlukan adanya kesabaran.
4.            Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
5.            Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.
6.            Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut.
7.            Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.
8.            Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.
9.            Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah terwujud.

Ibarat orang yang lari maraton 10 km, maka ia tidak boleh berlari sprint pada 100 m awal, kemudian setelah itu ia kelelahan. Perlu di ingat bahwa ada ataupun tiadanya kita, dakwah akan tetap berjalan, so keep spirit to fight straight away!


istiqomah di jalan dakwah


ISTIQOMAH DI JALAN DAKWAH :

Dakwah yang merupakan salah satu sendi aktivitas kehidupan kita, semsetinya tidak untuk sekedar kita jalani melainkan kita nikmati. Proses ini bertujuan agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati untuk kita cintai. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.
Terkadang perjuangan dakwah ini begitu berat. Di tengah lingkungan yang sibuk dengan urusan duniawi dan masyarakat yang sekuler, tak jarang kita merasa begitu lelah dan sendirian. Ketika kawan-kawan seperjuangan satu persatu mundur teratur. Ditambah jika kita berjuang di negeri asing, di mana masyarakatnya tidak mengenal Islam dan materi menjadi Tuhan. Perasaan ini wajar, bahkan berkah dari Allah SWT agar kita selalu istiqomah dengan tujuan hidup ini dan nilai-nilai yang kita perjuangkan.
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Alloh dan rasul-Nya serta berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh memberikan keputusannya. dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (At-Taubah;24).
Yang harus diingat adalah apakah kita terjun dalam dakwah karena orang-orang yang sudah futur tadi atau karena Alloh? jika karena orang-orang tadi maka cepat atau lambat kita akan mengikuti jejak mereka. Namun jika karena Alloh maka seberat apapun beban dakwah yang didapat maka akan selalu teringat tujuan awal kita.
Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata: Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Dari hadist tersebut di atas, kandungan isi yang bisa kita ambil bahwa dua pokok permasalahan besar dalam Islam, yaitu Iman dan Istiqamah. Iman merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam kehidupan nyata.
Dari pertanyaan Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman dan istiqamah memiliki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Dua hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman merupakan pondasi keislaman seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat/ 41 : 30).
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”


Hakekat Istiqamah
Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk infinitif dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya dan substansinya, digambarkan sebagai berikut :
Abu Bakar al-Shiddiq.
Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, ‘istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.).
Umar bin Khatab.
Umar bin Khatab pernah mengatakan: Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang seperti menyimpangnya rubah.
Usman bin Affan.
Beliau mengatakan mengenai istiqamah, “Beristiqamahlah kalian yaitu ikhlaskanlah amal kalian hanya kepada Allah swt.
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istiqomah adalah implementasi dari nilai-nilai keimanan kepada Allah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Sehingga jika diimplemenatasikan dalam kehidupan dakwah kontemporer, seorang kader yang istiqomah, ia akan tetap konsisten menekuni jalan da’wah, apapun resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Seorang pejuang dakwah di parlemen yang istiqamah misalnya, akan senantiasa memperjuangkan ‘panji-panji’ dakwah, dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ragu dan bimbang serta tidak tergoda dengan segala godaan duniawi. Dan seorang al-akh yang istiqomah adalah al-akh yang ‘berani’ untuk tetap konsisten memperjuangkan ideologi dakwahnya yang benar, meskipun bertentangan dengan rekan-rekannya yang mungkin lebih senior, lebih struktural ataupun lebih ‘besar’ dalam pandangan manusia.
Manusia tetaplah manusia, kendatipun takwanya ia. Ia pasti pernah berbuat kekeliruan ataupun kesalahan. Oleh karenanya, untuk memperjelas masalah ini, dalam salah satu ayat-Nya di dalam Al-Qur’an, Allah swt menggandeng antara istiqamah dengan istighfar kepada Allah swt., yaitu sebagaimana yang terdapat dalam QS. Fushilat/ 41 : 6 :
“Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya).”
Ayat di atas menggambarkan, bahwa setiap insan pasti pernah melakukan satu kelalaian atau kesalahan, tanpa terkecuali siapapun dia. Oleh karenanya, seorang muslim yang baik adalah yang senantiasa introspeksi diri terhadap segala kekurangan dan kesalahan-kesalahannya, untuk kemudian berusaha memperbaikinya dengan terlebih dahulu beristighfar dan bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt.
Terlebih ketika mengarungi jalan dakwah yang penuh lubang dan duri, serta  jarak tempuh yang seolah bagaikan lautan tiada bertepi. Di sana banyak manusia-manusia yang beragam asal-usulnya, berbeda latar belakangnya.Tentulah hal ini memerlukan keistiqamahan dalam mengarunginya. Karena benturan, perbedaan ataupun kesilapan diantara sesama aktivis dakwah pasti terjadi. Mustahil jika manusia sebanyak itu tidak pernah saling salah paham. Sedangkan suami istri yang telah diikat dengan kalimatullah, hidup bersama siang dan malam, pagi dan sore, masih memiliki perbedaan-perbedaan yang
sulit dihindarkan. Apatah lagi, bagi sebuah kelompok besar yang masing-masing memiliki interest tersendiri. Namun yang lebih penting adalah, pasca kesalahan tersebut, apa yang ia perbuat kemudian?
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, Dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Buah Istiqamah
Istiqamah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :
1.            Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)
2.            Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan ta’yiid/ pertolongan dan dukungan dari para malaikat.
3.            Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.
Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)

Cara untuk Merealisasikan Istiqamah
1.            Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Diantara tanda-tanda ikhlas adalah: fokus untuk menggapai ridha Allah dan kesabaran dalam menempuh suatu proses yang panjang.
2.            Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan.
3.            Diperlukan adanya kesabaran.
4.            Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
5.            Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.
6.            Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut.
7.            Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.
8.            Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.
9.            Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah terwujud.

Ibarat orang yang lari maraton 10 km, maka ia tidak boleh berlari sprint pada 100 m awal, kemudian setelah itu ia kelelahan. Perlu di ingat bahwa ada ataupun tiadanya kita, dakwah akan tetap berjalan, so keep spirit to fight straight away!


Sabtu, 22 September 2012

berkreasi tanpa batas

sebagian besar manusia senantiasa mengandalkan apa yang sewajarnya bisa dilakukan atas kemampuan semestinya yang dimiliki. sebenarnya Tuhan mengizinkan kita berkreasi, berimajinasi tanpa batas agar kita mampu menghasilkan sebuah karya yang spektakuler dan bermanfaat tanpa melampui apa yang dikehendakiNya. manusia hanya berpikir untuk meraup apapun kenutungan dan kemanfaatan tanpa berfikir untuk meneruskan aktivitasnya menjadi sebuah rutinitas yang sinergi dan menjadi ladang ibadah untuknya.

Jumat, 02 Desember 2011

indah karena gelombang

Gelombang wavelet memiliki nilai frekuensi dan amplitudo yang tidak tertahan pada sebuah daerah terntentu, jadi dia bisa fleksibe dan mengikuti alur sebuah sinyal dengan baik (jiah keinget mw kasih materi atau curhat nie jeng?). dari dulu kepengin banget curhat di blog, tpi g pernah kesampean. hari ini gue berharap bisa tumpahin banyak hal yang belakangan  actually merenggut kebebasan personalku dan al hasil membuat kejiwaanku sedikit terganggu(haaa,ababil dikit, mumpung masih single).

Rabu, 28 September 2011

lulus melahirkan keluarga wavelet

26-09-11 the great day for me and my friend at attack wavelet family...
alhamdulillah akhirnya dinyatakan lulus.
lanjut masa revisi yg ternyata lebih menyusahkan,hmmm
tapi inilah hidup, bukan hidup klo gda belokan,haa

belokan? tikungan kalee...
ya itulah. proses yg hampir berjalan 2tahun dengan perkuliahan total hampir 5 tahun, dinyatakan sukses atau gagal dlm 2jam, sebuah cerita indah untuk masa depan.
kata orang sidang adalah hal spesial namun pasti terjadi, aku yakin itu, namun aku sesali bahwa perjalanan kelulusanku banyak mengakibatkan hal-hal yang tak terbayangkan sebelumnya,, unpredicable and make trouble my live. lagi kaya gini rasanya pengen nyanyi bareng nada'problema'.


Jumat, 12 Agustus 2011

dosen untuk bersama

belajar dari pengalaman sang akhwat yang akrab saya panggil 'mutiara asoyy', banyak belajar tentang arti hidup dan kebersamaan. hidup tak akan terasa indah tanpa adanya tantangan bahkan tantangan. karena warna hidup kadang dan bahkan sebenarnya ddatang karena adanya dua hal tadi. itu hal yang memang layak adanya dan merupakan kesatuan aksi dan reaksi.
namun ada beberapa orang yang menganggap hidup itu terhambat, tak nyaman karena adanya tantangan dan halangan yang ada, padahal itu hanyalah alibi karena ketidak berdayaannya menghadapi dua hal tadi. kebanyakan kita memang ingin menikmati hidup atas dasar apa yang membuat kita senang dan tidak mnjadi beban atas kebiasaan, padahal ketika kita mampu melewati hal- hali d luar kebiasaan itu bakalan menjadi suatu hal yang luar biasa karena bisa jadi itu adlaha sebuah hal yang luar biasa dalam hidup kita.